dr Sudi Harjanto Ungkap Jejak Desa Kuno di Situs Pendem Sidoarjo

Rudy Hartono - 1 November 2026
dr. Sudi Harjanto, pendiri komunitas Sidoarjo Masa Kuno naras umber pembahasan situs Pendem di Dusun Wonokoyo, Desa Kloposepuluh, Sidoarjo, Jumat malam (30/10/2026). (foto: vico wildan/superradio.id).

SR, Sidoarjo – Forum Rembuk Budaya Sidoarjo yang digelar di Dusun Wonokoyo, Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, pada Jumat malam (30/10/2026) menjadi ajang krusial untuk menggali akar sejarah keberadaan Situs Pendem.

Berbeda dari cerita mistis yang berkembang di masyarakat, penelusuran sejarah berbasis artefak dan manuskrip menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan bagian dari peradaban tua Sidoarjo era Kerajaan Medang.

Hal itu diyakini dr. Sudi Harjanto, pendiri komunitas Sidoarjo Masa Kuno yang sekaligus nara sumber utama pembahasan situs Pendem. Lokasi situs di Dusun Wonokoyo tidak bisa dilepaskan dari sejarah Desa Kloposepuluh sebagai wilayah yang menaunginya. Berdasarkan kajian prasasti, Desa Kloposepuluh telah eksis sejak abad ke-9 Masehi dengan nama kuno “Kulupwan” dari bahasa sansekerta yang berarti kelapa. Sementara berdasar toponimi wilayah, peta Belanda tahun 1892 wilayah itu sudah diberi nama “Desa Klapa Sepoeloeh”.

“Terus terang kalau kita menggali sejarah itu tidak bisa pakai terawangan gaib, kita harus berbasis data dan prasasti. Desa Kloposepuluh ini sudah ada di masa lalu dengan nama Kulupwan sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kancana tertanggal 872 Saka atau 950 M, di mana pejabat pengelolanya bergelar Sang Besi,”  tegas dr. Sudi Harjanto seraya menunjukkan prasasti yang dimaksud dalam slide yang ditampilkannya.

Dalam observasi yang dilakukan dr Sudi beberapa tahun lalu, di lokasi situs saat ini tampak banyak remukan bata kuno yang berukuran besar dan tebal. Selain itu, ia juga menemukan struktur batu bata berukuran besar serta susunan bata memutar yang diduga kuat merupakan bekas sumur kuno.

Menurut penelitiannya, keberadaan sumur kuno dan material bata berdimensi besar tersebut menjadi indikasi kuat adanya pusat permukiman serta peradaban masa lalu di koridor sungai kuno Sidoarjo.

 Situs Pendem berupa struktur bata kuno di Dusun Wonokoyo, Desa Klopo Sepuluh, Kabupaten Sidoarjo.

“Batu bata di Situs Pendem ini ukurannya jauh lebih besar dan strukturnya memutar, yang mengindikasikan adanya sumur kuno. Ini membuktikan di wilayah Kloposepuluh dan sekitarnya sudah eksis peradaban tua sejak era Medang,” ujarnya.

Untuk menguatkan bahwa di areal situs merupakan wilayah kuno, dr Sudi menunjukkan bukti historis Peta Belanda tahun 1892. Bahwa di areal situs sekira berjarak 100 meter terdapat banyak makam dengan nisan yang terbuat dari bata kuno, serta sisa-sisa bata penyusun sumur kuno yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “Sumur Windu”.

Soal penamaan Pendem pada situs yang ditemukan di Wonokoyo, secara kritis ia menolak pengemasan narasi gaib atau komersialisasi ‘bisnis punden’ yang mengesampingkan fakta sains. Menurutnya, menggali sejarah Situs Pendem harus difokuskan pada nilai edukasi, seperti jejak jaringan perdagangan internasional, tata ruang wilayah kuno, hingga potensi mitigasi bencana alam.

“Jauh lebih penting mengedukasi masyarakat tentang jejak perdagangan dan keberadaan peradaban masa lalu ketimbang menjual cerita mistis atau bisnis punden. Narasi sejarah berbasis data itulah yang punya nilai edukasi sejati untuk membina masyarakat,” kata dr. Sudi menegaskan pentingnya pengemasan ilmiah.

Warga Dusun Wonokoyo dan pegiat budaya dalam Forum Rembuk Budaya Sidoarjo yang digelar di Dusun Wonokoyo, Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, pada Jumat malam (30/10/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Dr Sudi berpendapat penamaan Pendem lebih merujuk toponimi karena saat ditemukan dalam kondisi terpendam. Mengingat Dusun Wonokoyo yang berada di Desa Klapa Sepuluh berada di tepi sungai kuno yang disebut oleh pemerintah kolonial sebagai “Mangetan Kanal” atau orang lama menyebutnya “Bengawan Terung”.

“Di sepanjang sungai kuno itu telah ditemukan reruntuhan candi, bebatuan memuat angka tahun saka, dan berbagai prasasti kuno. Saya menduga  sungai alami banjir yang membawa lumpur sehingga menutupi situs Pendem hingga ditemukan kembali,” analisis dr Sudi.

Untuk membuktikan secara utuh temuan struktur kuno itu, dr. Sudi merekomendasikan kepada pemerintah daerah atau pemerintahan desa untuk mengkaji dengan  penggunaan teknologi pemetaan geolistrik bersama akademisi ITS. Metode ini bisa memberi gambaran yang lebih jelas tentang benda atau fluida apa yang ada di bawah struktur kuno itu.

“Setelah ada pemetaan geolistrik, langkah berikutnya barulah mengajukan ekskavasi resmi ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Trowulan dengan pembiayaan pemerintah,” saran dr Sudi.

Langkah teknis ini diharapkan dapat memperjelas struktur bangunan bawah tanah Situs Pendem agar segera ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan diselamatkan oleh pemerintah daerah. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.