DPRD Jatim Dukung Kurikulum Merdeka

Yovie Wicaksono - 7 April 2022
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana mendukung kurikulum merdeka yang saat ini diterapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam sistem pengajaran di Indonesia.

Menurutnya, esensi kurikulum merdeka sebetulnya bagus, dimana sistem ini merupakan pendidikan berpatokan pada bakat dan minat siswa untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi.

“Dimana dua tahun lebih karena pandemi pembelajaran tidak maksimal, Indonesia mengalami krisis dasar pembelajaran dalam waktu tidak sebentar,” katanya, Kamis (7/4/2022). 

Untuk memulihkan keadaan ini, kata mantan Ketua DPRD Kediri ini diperlukan perubahan secara sistematik, karena hasil studi dan hasil ujian PISA (Programme for International Student Assessment) telah menunjukan bahwa banyak siswa yang tidak mampu memahami konsep matematika dasar terdapat kesenjangan pendidikan yang mencolok antar wilayah dan kelompok.

Ia mengatakan, memang hal yang baru selalu menjadi perdebatan, tetapi pihaknya meyakini bahwa pemerintah punya hidden khusus yang menyangkut generasi penerus bangsa.

“Dan yang perlu dipahami kurikulum 2013, tetap masih bisa digunakan sambil transisi siap-siap menerapkan kurikulum baru yang dinamakan kurikulum merdeka,” katanya.

Soal keterbatasan buku dalam pembelajaran kurikulum merdeka tersebut, kata Wara Sundari Renny Pramana, bisa diperoleh dengan tidak harus membeli, melainkan bisa melakukan pengadaan lewat fotocopy.

Sekedar diketahui, pemberlakuan kurikulum merdeka kepada siswa dalam sistem pembelajaran di Indonesia menimbulkan polemik. Kurikulum tersebut banyak dikeluhkan oleh orang tua siswa. terkait sarana dan prasarana. Serta, banyaknya kekhawatiran penguasaan konsep yang diterima siswa di tengah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kekhawatiran orang tua dengan kurikulum baru, harus membeli buku-buku baru untuk anak-anaknya. Sedang untuk guru, konsep kurikulum belum dikuasai sudah muncul konsep baru yang harus diaplikasikan. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.