Doa Lintas Agama untuk Korban Selandia Baru

Yovie Wicaksono - 23 March 2019
Doa Bersama Lintas Agama untuk Korban Penembakan di Selandia Baru Beberapa Waktu Lalu. (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Berbagai umat lintas agama menggelar Malam Solidaritas dan Doa Bersama di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Surabaya, pada Jumat (22/3/2019), untuk korban penembakan terhadap jamaah dua masjid di Selandia Baru belum lama ini.

Diawali dengan prosesi Jalan Salib, umat Katolik mendedikasikan seluruh rangkaian doa dan pantangan yang telah dijalani hari ini untuk korban di Selandia Baru.

“Hari ini diwarnai dengan Doa Jalan Salib, untuk mengenang peristiwa penderitaan Tuhan kami, Yesus. Kami mendedikasikan seluruh rangkaian doa dan pantangan kami hari ini untuk teman-teman Selandia Baru yang menjadi korban, lalu kita berdoa bersama teman lintas agama bagi perdamaian dunia, untuk Indonesia, dan untuk para korban,” ujar Romo Widyawan kepada Super Radio.

Belajar dari peristiwa 13 Mei, Romo Widyawan mengingatkan untuk saling bergandengan tangan dan menghentikan kekerasan.

“Gerakan ini spontan, yang didasari oleh rasa kemanusiaan. Peristiwa di Selandia Baru itu bukan perang agama, tapi ini murni kekerasan. Mari kita bersama menghentikan kekerasan dan mari kita bergandengan tangan bahwa Indonesia dibangun dari kebersamaan yang beragam,” tambah Romo Widyawan.

Ia menegaskan, “Belajar dari 13 Mei, meskipun kita dibom oleh kebencian, kita juga siap ngebom dengan kasih.”

“Semoga semua ini membuat kita semakin dikuatkan, semakin membuat kita dipersatukan, tidak ada lagi rasa atau merasa berbeda, karena berbeda agama, suku, dan bahasa. Harapan saya kita semua semakin rukun, semakin bersatu, dan kuat dalam menghadapi banyak hal yang akan terjadi nanti,” ujar Perwakilan Gusdurian Surabaya, Haris Teguh yang kemudian dilanjutkan membaca Al-Fatihah untuk berbagai tragedi dan bencana yang telah terjadi.

Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Provinsi Jawa Timur, Otto Bambang Wahyudi mengapresiasi acara ini yang menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama.

“Saya mengapresiasi bahwa di Indonesia ini masih ada teman-teman dari lintas agama yang masih bisa rukun, kita tidak membandingkan perbedaan satu sama lain, tapi dari perbedaan itu kita satukan dalam bentuk satu kerukunan umat beragama. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan, bukan kejahatan atau bahkan kekerasan,” ujarnya setelah prosesi doa bersama.

Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngagel Surabaya, Florida Rambu mengingatkan bahwa keberagaman adalah keniscayaan yang nilainya harus terus ditularkan.

“Keberagaman adalah keniscayaan, karena harus kita akui ada banyak orang yang masih melihat keberagaman sebagai aib, seolah-olah kita harus satu warna, sementara itu tidak mungkin terjadi. Kita diciptakan beragam, kita harus terus menularkan nilai keberagaman ini,” tandas pendeta yang sering disapa Flo ini. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.