Di Tengah Wabah PMK, Begini Kondisi Penjualan Hewan Kurban

Yovie Wicaksono - 9 July 2022
Matasan, salah satu pedagang hewan kurban di Waru Sidoarjo menunjukkan surat keterangan membawa hewan yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dari daerah asal serta surat pemeriksaan kesehatan ternak miliknya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Sidoarjo – Guna mengantisipasi maraknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan kurban, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui Dinas Pangan dan Pertanian, telah menyediakan lapak penjualan hewan kurban resmi di 18 kecamatan. Salah satunya di lahan milik PT KAI sebelah timur rel kereta api RT 03 RW 14 Desa Waru, Kecamatan Waru.

Di sana, para pedagang telah mengantongi surat keterangan membawa hewan yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dari daerah asal serta surat pemeriksaan kesehatan ternak.

Matasan, salah satu pedagang hewan kurban asal Malang mengatakan, hewan kurban yang dijualnya dijamin terbebas dari PMK, karena telah diperiksa Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang.

Pria yang sudah 17 tahun berjualan hewan kurban, tahun ini hanya menjual 45 ekor kambing dan tanpa sapi, karena kambing di Kabupaten Malang aman dari PMK, dibanding sapi.

Menurut Matasan, maraknya wabah PMK, tak memengaruhi penjualan hewan kurban miliknya. Dari 45 ekor kambing yang dijual sejak Minggu lalu, hingga H-1 Iduladha hanya tersisa 5 ekor kambing.

“Alhamdulillah penjualan lancar, hanya sisa 5 ekor. Paling ramai ya H-2 Iduladha,” ujarnya, Sabtu (9/7/2022).

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, harga kambing yang dijual mengalami kenaikan, akibat biaya sewa stan dan biaya perjalanan dari Malang ke Sidoarjo naik.

“Ada kenaikan Rp100-200 ribu. Kalau tahun lalu rata-rata satu kambing itu seharga Rp3 juta, tahun ini Rp3.200.000. Karena apa-apanya juga naik sekarang,” imbuhnya.

Berbeda dengan Matasan, pedagang hewan kurban di tempat yang sama asal Nganjuk Eko, mengaku jika tahun ini mengalami penurunan penjualan lantaran adanya PMK. Dari 60 ekor kambing yang dijual, masih tersisa 30 yang belum laku dan dari 15 ekor sapi, tersisa 2.

“Padahal tahun kemarin saya bisa jual paling tidak 25 ekor sapi. Kambing juga cukup drastis penurunannya, karena konsumen sekarang kalau mau beli ya takut karena ada PMK itu,” ujar pria yang sudah berjualan hewan kurban sejak 1999.

Terkait kenaikan harga hewan kurban, Eko mengatakan tidak ada. Ia menjual kambing dengan kisaran harga Rp 2,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Sementara untuk sapi dibandrol dengan harga Rp 16-26 juta.

“Kenaikan harga tidak ada. Hanya saja karena sekarang banyak pasar-pasar hewan yang tutup akibat PMK, kita sedikit kesulitan mencari hewan kurban untuk dijual. Akhirnya cari di kampung-kampung,” ujarnya.

Ia mengatakan, semua pembeli menanyakan kondisi hewan yang dijual termasuk ada tidaknya surat pemeriksaan kesehatan hewan. Eko pun menunjukkan surat yang telah dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Nganjuk dan Sidoarjo untuk meyakinkan pembeli. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.