Cara Mudah Mendeteksi Orang Radikal Agama Dibanding Pancasila

Yovie Wicaksono - 31 May 2025
Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Mohammad Anshori, atau kerap disapa Gus Aan sebagai salah satu pemateri tengah memaparkan pandangan terkait nilai nilai Pancasila dalam hidup beragama. (foto:niken oktavia/superradio.id)

SR, Surabaya – Penganut enam agama dan kepercayaan di Indonesia duduk bersama dalam acara Rebug Pancasila. Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun Paroki yang ke-95, sekaligus menjelang Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, mereka berkumpul untuk merenungkan nilai-nilai dasar bangsa.

Acara dibuka dengan pertanyaan yang membuat hadirin terdiam. Salah satu pembicara dalam sesi diskusi, Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Mohammad Anshori, atau kerap disapa Gus Aan, melemparkan pertanyaan reflektif, “Anda lebih tunduk kepada Pancasila atau agama?” tanyanya. Ruangan mendadak hening, para peserta tampak merenung dalam diam.

“Tidak perlu dijawab,” kata Gus Aan kemudian. Ia menjelaskan, pertanyaan ini hanya menjadi pemantik untuk memikirkan ulang seberapa besar hubungan antara agama dengan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Gus Aan memetakan pemahaman masyarakat beragama terkait Pancasila ke dalam tiga kategori besar. Pertama, kelompok mainstream. Kelompok ini, menurutnya, seringkali menganggap sila pertama sebagai sila yang paling sakral, sementara empat sila lainnya diabaikan. “Akibatnya, orang yang tidak bertuhan sering dituduh sebagai orang jahat, pengkhianat negara, dan layak dipidanakan,” jelasnya.

Kedua, kelompok islamis. Mereka, kata Gus Aan, memiliki pola pikir mirip dengan kelompok mainstream, tetapi dengan sentuhan khas. “Ada kelompok Islam yang meyakini bahwa sila pertama itu milik orang Islam. Karena berorientasi tauhid, mereka merasa hanya Islam yang bertuhan satu,” jelasnya.

Ketiga, kelompok progresif. Menurut Gus Aan, kelompok ini melihat Pancasila sebagai cara sekaligus tujuan dalam beragama. “Agama tidak akan sempurna kalau tidak selaras dengan Pancasila,” tegasnya. Ciri-cirinya jelas: mereka akan langsung bertanya ketika ada sesuatu yang tidak sesuai nilai-nilai kemanusiaan, tidak menjaga keberagaman, atau tidak mau saling tolong-menolong dengan pemeluk agama lain.

Gus Aan juga menekankan, “Kalau ada yang mengaku beriman tapi abai terhadap kemanusiaan, itu bukan beragama yang utuh,” katanya.

Di hadapan para hadirin, Gus Aan menekankan pentingnya menyelamatkan bangsa melalui Pancasila. Caranya, kata dia, adalah dengan menjadikan Ikrar Agama dan Pancasila sebagai basis pijakan nilai, terus meng-update pengetahuan terkait kelompok yang berbeda identitas, serta memperluas dan meningkatkan kualitas perjumpaan dengan kelompok lain untuk membuka pemahaman akan keberagaman.

Gus Aan mengingatkan, kehidupan yang homogen justru berbahaya bagi keutuhan bangsa. “Ibaratnya, Ibu Bapak Katolik, Kristen atau Konghucu tidak menyekolahkan anak ke sekolah negeri atau inklusi, maka isinya sekolah itu akan semakin homogen: Islam tok, Jawa tok,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “Hidup yang homogen itu jahat. Tidak diajari berkumpul dengan yang lain. Semakin kita bercampur aduk, semakin kita akan menjadi orang yang Pancasilais,” pungkasnya (nio/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.