Buku ‘Jejak Listrik di Tanah Raja’ Kupas Sejarah Kelistrikan Indonesia

Yovie Wicaksono - 16 January 2022

SR, Surabaya – Sejarah kelistrikan di Indonesia masih kurang diminati kalangan sejarawan, karena kajiannya masih didominasi pendekatan teknis dengan narasi rumus-rumus dan angka-angka.

Komisaris PLN Eko Sulistyo yang merupakan lulusan jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNS, kemudian berupaya untuk mengungkap dari sisi lain berdasarkan hasil penelitiannya, yang kemudian menghadirkan sebuah buku berjudul “Jejak Listrik di Tanah Raja” yang menggambarkan listrik dan kolonialisme di Surakarta pada 1901 hingga 1957.  

Penulis buku Eko Sulistyo menjelaskan, sejarah kelistrikan di Vostelanden atau wilayah kekuasaan kerajaan di Surakarta yakni : Keraton Kasunanan dan Pura  Mangkunegaran dimulai pada tahun 1901, dan tercatat Kota ke 2 masuk ke Indonesia setelah Batavia. 

“Kehadiran listrik mempercepat kemajuan ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, termasuk emansipasi politik dan ideologi,” katanya, Sabtu (15/1/2022).

“Bahkan sejarawan Rudofl Mrazek lewat bukunya Engineers of Happy Land sempat menyinggung kehadiran listrik di Hindia Belanda dan menghubungkannya dengan fajar nasionalisme, Bumi Putera pada abad ke 20, yang disebutnya sebagai Cahaya–Cahaya Baru dan Lampu-Lampu yang Muncul Setiap Hari,” sambungnya.

Bahkan pada bab ke-empat secara khusus dibahas Kota Solo dengan segala fenomenanya, seperti lahirnya Budaya Perkotaan, Budaya Ngelembur, Fenomena Angkringan, Trem Listrik, Radio, juga budaya Menari di Belanda.

“Banyak hal menarik diungkap mulai dari kehadiran pabrik listrik yang dimotori penguasa kerajaan, Kasunanan dan Mangkunegaran, munculnya budaya perkotaan akibat listrik, sampai pendirian pembangkit listrik oleh Mangkunegara VII yang mencerminkan kemandirian bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka,” kata Eko.

Buku Jejak Listrik di Tanah Raja diterbitkan  Kepustakaan Populer Gramedia, setebal 278 halaman, terdiri  6 Bab meliputi : Cahaya Terang di Negeri Koloni, Pabrik Listrik di Tanah Raja, Listrik dalam Kontestasi Politik Kolonial, Solo Benderang di Malam Hari, Listrik Pasca Runtuhnya Kolonialisme dan Kesimpulan. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.