BPBD Jatim Bentuk Fasilitator Pengukuran Indeks Ketahanan

Yovie Wicaksono - 11 December 2019
BPBD Provinsi Jawa Timur membentuk fasilitator pengukuran indeks kapasitas/ketahanan mulai 9 hingga 12 Desember di Kota Batu. Foto : (Istimewa)

SR, Batu – Guna menurunkan indeks risiko bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur membentuk fasilitator pengukuran indeks kapasitas/ketahanan mulai 9 hingga 12 Desember di Kota Batu.

Kepala Pelaksana BPBD Prov Jatim, Suban Wahyudiono mengatakan, sesuai dengan kajian risiko bencana tahun 2016-2020, terdapat 12  jenis ancaman bencana di Jatim, yaitu banjir, banjir bandang, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, kegagalan teknologi, kekeringan, epidemi dan wabah penyakit, letusan gunung api, cuaca ekstrim, tanah longsor, tsunami dan kebakaran lahan, ditambah lagi 1(satu) potensi bencana baru yaitu likuifaksi.

Dikatakannya, berdasarkan data kejadian bencana tahun 2018, dari 1.999 kejadian bencana terjadi di Indonesia, sekitar 411 kejadian bencana terjadi di Jatim  yang didominasi oleh banjir, tanah longsor, angin kencang dan kebakaran hutan/lahan.

“Untuk penanganan bencana, di mata pemerintahan ibu Khofifah  dan bapak Emil Dardak menjadi perhatian sangat penting sehingga oleh beliau penanganan bencana menjadi salah satu IKU (indeks kinerja utama) Jatim yang harus diselesaikan,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, dalam penanganan bencana selalu mengacu pada hasil kegiatan risiko tahun 2016-2020 yang telah diterbitkan oleh BNPB.

Strategi yang digunakan untuk penurunan  indeks risiko bencana dikelompokkan menjadi 7 prioritas, yaitu penguatan kebijakan dan kelembagaan, pengkajian risiko dan perencanaan terpadu.

Selain itu juga pengembangan sistem informasi, diklat dan logistik, penanganan tematik kawasan rawan bencana, peningkatan efektivitas pencegahan dan mitigasi bencana, perkuatan kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana, dan pengembangan sistem pemulihan bencana.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Prov Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, indikator kinerja utama Jatim tahun 2019-2024 adalah menurunkan indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan yang berisiko tinggi, dengan strategi melalui internalisasi pengurangan risiko bencana dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana dan peningkatan kapasitas pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Dikatakan Gatot, peserta kegiatan terdiri dari  OPD, lembaga/instansi yang terkait dalam penanggulangan bencana diantaranya TNI, Polri, Bappeprov Jatim, Sekretariat DPRD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kominfo, Dinas Pendidikan, Dinas PU Bina Marga, Dinas Perumahan Rakyat Permukiman dan Cipta Karya, Dinas PU Sumber Daya Air, Sat Pol PP, Biro Hukum, Perum Perhutani Divisi Regional Jatim, Perum Bulog Divisi Reg. Jatim, BBWS Brantas, BBWS Bengawan Solo, Pencarian dan Pertolongan Surabaya, BMKG, dan SRPB Jatim. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.