Bernada Rurit : Nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan Harus Disampaikan secara Kekinian

Yovie Wicaksono - 10 December 2021
Sosialisasi Wawasan Kebangsaan bertema “Merawat Kebhinekaan Menuju Indonesia 2045 dengan Mewujudkan Kesadaran Kolektif Berbangsa” di Gedung dan Conference Centre Widya Kartika LKD Surabaya pada Kamis malam (9/12/2021). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Anggota Penulis Indonesia 2045, Bernada Rurit mengatakan, di era digitalisasi, Pancasila tidak lagi berporos di hafalan dan teori, melainkan lebih konkrit dan nyata dalam implementasi.

Nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan, lanjutnya, harus disampaikan secara kekinian, menyesuaikan dengan berkembangnya generasi milenial yang kedepannya akan menjadi penentu keberlangsungan Indonesia menuju tahun 2045.

“Anak milenial itu bisa melakukan hal yang besar, teknologi harusnya membuat dampak yang positif untuk dunia. Itulah kenapa generasi z menjadi perhatian semua orang karena akan menjadi generasi penentu,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Wawasan Kebangsaan bertema “Merawat Kebhinekaan Menuju Indonesia 2045 dengan Mewujudkan Kesadaran Kolektif Berbangsa” di Gedung dan Conference Centre Widya Kartika LKD Surabaya pada Kamis malam (9/12/2021).

Ia mengatakan nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan bisa disampaikan secara kekinian dengan memposting di media sosial tentang keragaman budaya atau destinasi wisata yang disinggahi saat berlibur.

Kemudian, dapat juga dengan memproduksi film-film pendek tentang kultur tanah air, seperti yang telah dilakukan beberapa generasi muda di Yogyakarta yang menang di ajang Internasional.

“Era digitalisasi harusnya membuat kita makin berkembang. Kita itu sebenarnya banyak potensi yang luar biasa, hanya sekarang ini bagaimana menjadi kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara,” imbuhnya.

Dari hal tersebut, ada 3 peran yang sangat krusial dalam pembentukan generasi pancasila ini, yakni pemerintah, pemuka agama, dan keluarga.

“Kalau keluarga tidak memulai nilai Pancasila dari sisi keluarga inti, itu akan susah karena mereka itu lini terkecil. Setelah itu pendidikan, kemudian pemerintah lewat kebijakan-kebijakan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Pastur Timotheus Siga. Ia menyebut peran keluarga sangat penting dalam pembentukan karakter, sehingga wawasan kebangsaan harus ditanamkan sedini mungkin.

Ia menuturkan, nilai-nilai Pancasila juga sejalan dengan ajaran Katolik. Dalam ajaran sosial gereja, telah diajarkan untuk melihat kesejahteraan sesuai pembukaan Undang-Undang, menghormati martabat dan kesejahteraan bersama, serta membangun subsider.

“Maka kalau ditanya berwawasan kebangsaan versi Katolik, berarti dia harus melihat realitas kesejahteraan seperti pada pembukaan Undang-Undang, cita-cita bersama, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan membangun perdamaian bersama,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari yang menginisiasi acara ini, mengajak seluruh pihak yang berasal dari bermacam komunitas untuk kembali membumikan Pancasila dan merawat kebhinekaan di tengah keberagaman.

“Program ini boleh dilaksanakan setiap satu kali dalam satu bulan. Di Jawa Timur angka kekerasan berbasis agama masih tinggi. Mau atau tidak, bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam,” kata Agatha Retnosari. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.