Bencana Hidrometeorologi Dominan Hingga Pekan Kedua April 2020

Yovie Wicaksono - 10 April 2020
Personel kepolisian mengevakuasi warga yang terjebak banjir di kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Rabu (1/1/2020). Banjir tersebut akibat luapan sungai Sunter dan tingginya intensitas curah hujan sejak Selasa (31/12/2019) malam. Foto : (Antara)

SR, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana hidrometeorologi masih sering terjadi hingga minggu kedua April 2020. Bencana alam di tengah pandemik Covid-19 tersebut menimbulkan dampak korban dan kerusakan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo mengatakan data per 10 April 2020, total bencana berjumlah 1.069 kejadian. 

“Bencana hidrometeorologi masih tetap dominan, yaitu banjir sebanyak 388 kejadian, puting beliung 320, dan tanah longsor 243,” ujarnya, Jumat (10/4/2020).

Ia melanjutkan, kejadian lain yang jumlahnya tinggi yaitu kebakaran hutan dan lahan sejumlah 109 kejadian. Dari sejumlah peristiwa itu, bencana mengakibatkan 150 orang meninggal dunia, 228 luka-luka dan lebih dari 180 ribu menderita. 

Kerusakan yang ditimbulkan mencakup sektor perumahan, infrastruktur dan fasilitas umum lain. Total rumah rusak dengan tingkat kerusakan berbeda lebih dari 16 ribu, dengan rincian rusak berat 3.554 unit, rusak sedang 2.489 dan rusak ringan 10.331. 

Terkait rincian jumlah kejadian bencana lain yang terjadi pada awal Januari hingga awal April 2020 yaitu bencana gempa bumi 4 kejadian, letusan erupsi gunung api (2), gelombang pasang (2) dan kekeringan (1).   

“Berdasarkan sebaran kejadian bencana, Provinsi Jawa Tengah mengalami jumlah bencana tertinggi dengan 262 kejadian, disusul Jawa Barat 200, Jawa Timur 155, Aceh 78 dan Sulawesi Selatan 55,” ujarnya.

Sementara itu, bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor terjadi di Kelurahan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Kamis (9/4/2020) lalu. Longsor menimbun 1 orang dan satu lainnya luka ringan. Di samping itu, dua unit motor dan jalan raya sepanjang 50 meter juga tertimbun longsor. Tanah longsor tersebut dipicu oleh intensitas hujan tinggi dan struktur tanah yang labil. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur telah melakukan penanganan darurat seperti kaji cepat dan pembersihan material longsor.

Sedangkan pandemik penyakit akibat SARS-CoV-2, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID – 19 mencatat per 9 April 2020 jumlah positif 3.293 kasus, meninggal dunia 280 jiwa dan sembuh 252. Kasus tertinggi berada di Provinsi DKI Jakarta dengan 1.706 kasus. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.