BBKSDA Jatim Gunakan Burung Pemangsa Atasi Burung Pengganggu di Bandara Juanda
SR, Surabaya – Resort Konservasi Wilayah (RKW) 08 Bandara Juanda, bersama Tim Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur (Wildlife Rescue Unit / WRU) dan Airport Safety Bandara Juanda, mengimplementasikan program wildlife hazard management guna menanggulangi potensi terjadinya bird strike di Bandara Internasional Juanda.
Program ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko tabrakan antara burung dan pesawat terbang yang sering terjadi selama fase lepas landas, terbang, atau pendaratan, terutama di area bandara dengan ketinggian rendah.
Bird strike, atau tabrakan antara burung dan pesawat, adalah salah satu ancaman serius yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Gangguan ini biasanya terjadi di kawasan bandara yang dekat dengan habitat alami burung, seperti area terbuka dan perairan yang menjadi tempat burung mencari makan. Di Bandara Juanda, burung-burung air sering terlihat berada di pond atau kolam yang terdapat di sekitar area bandara, meningkatkan kemungkinan terjadinya bird strike.
Untuk mengatasi masalah ini, tim konservasi menggunakan metode penempatan burung pemangsa, atau raptor, yang bertujuan untuk mengusir burung-burung yang berkumpul di sekitar area bandara. Burung pemangsa, seperti elang, memiliki kemampuan untuk mengganggu konsentrasi dan mengusir burung-burung air, sehingga mengurangi risiko tabrakan dengan pesawat.
Belum lama ini, im penyelamat satwa dari BBKSDA Jawa Timur telah menempatkan tiga ekor burung pemangsa jenis Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) di dua lokasi strategis di sekitar Bandara Juanda. Masing-masing ekor burung elang brontok tersebut ditempatkan di area yang memiliki potensi gangguan tinggi, yaitu satu ekor elang fase gelap di kandang sisi Pond Barat, dan dua ekor elang fase terang di area dekat unit PMK dan Pond sisi Timur.
Kepala Balai KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan dalam keterangan tertulis, Jumat (6/12/2024) menjelaskan, bahwa penggunaan burung elang dalam penanggulangan bird strike ini akan dilaksanakan dalam tahap awal selama dua bulan. Selama periode ini, tim akan melakukan pemantauan rutin terhadap efektivitas penempatan burung pemangsa tersebut dalam mengurangi potensi bird strike.
Selain itu, kesehatan burung-burung elang juga akan diperiksa secara berkala setiap dua minggu sekali oleh tim medis satwa dari BBKSDA Jawa Timur untuk memastikan kondisi mereka tetap optimal dalam menjalankan tugasnya.
Evaluasi terhadap keberhasilan penempatan burung elang ini akan dilakukan setelah dua bulan pelaksanaan. Hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, apakah penempatan burung elang akan diperpanjang atau jika diperlukan, diambil tindakan lain untuk lebih efektif mengatasi ancaman bird strike di Bandara Juanda.
Program ini merupakan contoh nyata dari upaya kolaboratif antara pihak-pihak terkait dalam menjaga keselamatan penerbangan, sekaligus melindungi satwa liar yang ada di sekitar kawasan bandara. Dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan ini, diharapkan dapat tercipta suasana yang aman bagi penerbangan, tanpa mengabaikan pentingnya konservasi satwa liar di wilayah tersebut. (*/red)
Tags: bandara juanda, bird strike, bksda jatim, burung pemangsa, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





