UNAIR, UGM, IPB, dan ITB, Ciptakan Scanner Kanker Serviks

Yovie Wicaksono - 21 June 2019
Alat mikroskop portable dipegang Winarno, tim dosen dari UNAIR. Foto : (Humas UNAIR)

SR, Surabaya – Kanker serviks merupakan penyakit yang berapa tahun terakhir menjadi sangat diperhatikan. Pemerintahan pun telah menganjurkan untuk rajin melakukan tes pap smear pada semua perempuan Indonesia secara rutin. Untuk memiliki gambaran yang kompleks, dokter membutuhkan scanner yang dapat mendeteksi sekaligus mengidentifikasi.

Oleh karena itu, dosen Universitas Airlangga Riries R, bersama tim (Winarno dan Osmalina Nur Rahma) berkolaborasi dengan tim UGM, ITB, dan IPB membuat suatu inovasi, yaitu Scanner Kanker Serviks. Penelitian tersebut akan menghasilkan alat berupa hardware dan software. Tidak hanya untuk membantu mendeteksi pasien, tapi juga untuk alat  pembelajaran dokter muda.

”Alatnya sudah ada mikroskop portable, tapi di-improve lebih spesifik untuk kanker serviks,” ujar dosen Fisika UNAIR tersebut.

Penelitian yang memanfaatkan engineering dan image processing itu akan menampilkan hasil akhir keseluruhan gambar dan dapat menampilkan secara detail saat diperbesar. Adapun penelitian tersebut, tidak hanya sebagai scanning dan identifikasi, tapi juga sebagai data repository. Data repository bisa sebagai digital record riwayat kesehatan pasien dan bisa memberikan pelayanan terbaik untuk pasien.

”Nanti juga bisa data repository, selama ini data preparat disimpan saja nanti berjamur sewaktu-waktu data tersebut diminta Dinkes (Dinas Kesehatan, Red),” ujarnya.

Penelitian yang masih berjalan tersebut, menurut Riries selaku ketua tim mengharapkan dapat bermanfaat. Terutama pada faskes kesehatan yang rendah untuk bisa mengakses. Dengan itu, faskes rendah seperti puskesmas dapat mengonsultasikannya dengan dokter yang di pusat dengan konsep IoT (Internet Of Thinking).

”Faskes-faskes rendah bisa mengakses. Nanti dikirim ke dokter yang di pusat, nanti bisa melalui telepon atau internet,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) adalah program dikti yang bertujuan mendorong para dosen di seluruh Indonesia melakukan publikasi demi mencapai World Class University. Penelitian tersebut merupakan gelombang pertama yang diikuti dari empat universitas yakni, UNAIR, ITB, IPB dan UGM. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.