Bahagia, Kunci Kesehatan

Yovie Wicaksono - 29 January 2020
Seminar Kesehatan bertajuk Sehat Itu Bahagia, di Gedung Sasana Bhakti Tribuana Tungga Dewi, BK3S Jatim, Surabaya, Rabu (29/1/2020). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Rasa bahagia memiliki pengaruh terhadap kesehatan manusia. Orang yang bahagia dan selalu berpikir positif cenderung jarang mengalami sakit. Sebaliknya, orang yang merasa tidak bahagia dan selalu berpikir negatif lebih sering mengalami gangguan kesehatan dalam hidupnya.

Anggota Pokja Perempuan dan Anak, Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Timur, Nuniek Silalahi mengatakan, tidak ada gizi terbaik selain bahagia.

“Kalau kita memandang semuanya dengan baik, memandang semua orang memiliki keistimewaan, memandang semua peristiwa sebagai pelajaran, maka kita akan bahagia. Dan bahagia itu akan membawa kita menjadi sehat,” ujarnya dalam Seminar Kesehatan bertajuk Sehat Itu Bahagia, di Gedung Sasana Bhakti Tribuana Tungga Dewi, BK3S Jatim, Surabaya, Rabu (29/1/2020).

Nuniek mengatakan, kesehatan yang hakiki bisa didapatkan dari tiga hal, yakni makanan yang dikonsumsi mempunyai porsi 5 persen, kemudian olahraga dengan porsi 5 persen, dan sisanya 90 persen adalah dari pikiran.

Oleh karena itu, Nuniek menyampaikan pentingnya berpikir positif dan membuang semua pikiran negatif yang hanya akan memenuhi pikiran dan berimbas menjadi penyakit.

You are what you eat and what you think. Apa yang terjadi hari ini adalah hasil dari makanan yang telah kita konsumsi bertahun-tahun dan apa yang telah kita pikirkan selama ini,” tandasnya.

Nuniek mengatakan, pikiran manusia ibarat sebuah gawai yang setiap harinya menyimpan berbagai informasi, lambat laun akan membuat kinerja gawai berkurang jika informasi tersebut tidak dipilah dengan baik.

Perempuan pendiri Citrarenata Surabaya ini juga mengatakan perlunya menanamkan kata-kata positif dalam pikiran agar menjadi pribadi yang lebih positif dan bisa lebih produktif, seperti “saya selalu sehat, saya berada di tempat dan waktu yang tepat, dan apapun yang saya lakukan akan baik dan mudah”.

“Hal tersebut baiknya dilakukan ketika pagi hari antara jam 2-5 pagi setelah kita berdoa atau saat melakukan meditasi,” ujarnya.

Dalam seminar tersebut, Nuniek mengajak 200 peserta yang hadir untuk berlatih melakukan upaya penyembuhan dari diri sendiri yakni metode self healing. Serta senam terapi bersama Dr. Andriani. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.