Anjilo Kencono Dipersiapkan Melawan Rahwana Sang Angkara Murka
SR, Sidoarjo – Desa Rangkah Kidul, Kecamatan Kota, Sidoarjo, menjadi tempat istimewa bagi pagelaran Wayang Kulit Gagrak Porongan 12 titik (lokasi). Pasalnya, Desa Rangkah, satu-satunya desa yang ketempatan dua kali dalam dua tahun pagelaran Wayang Gagrak Porongan. Program ini sudah berjalan sejak 2024.
“Saya sudah tanya ke Ibu Kartini (Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo –Red), katanya, hanya Desa rangkah di Kecamatan Kota yang paling antusias menggelar lagi wayang kulit. Dan terbukti memang banyak sekali penontonnya,” kata Dr Tirto Adi MPd Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, di pembuka sambutannya, di lapangan Pulo Kencono Desa Rangkah Kidul, Sabtu (20/9/2025).
Tirto mengaku anggaran untuk pagelaran wayang gagrak porongan masih terbatas untuk 12 kecamatan, meski pihaknya sudah mengajukan anggaran untuk 18 kecamatan se- Kabupaten Sidoarjo. Karena anggaran terbatas, maka pelaksanaan wayang kulit dilakukan bergilir di kecamatan yang belum kebagian tahun 2024 lalu. “Mudah-mudahan dalam rapat Perubahan Anggaran Sidoarjo, usulan menambah titik pelaksanaan wayang gagrak porongan disetujui,” harap doktor bidang pendidikan Universitas Negeri Malang itu.

Terlepas soal lokasi pagelaran wayang Gagrak Porongan, Tirto mengutamakan dalang yang dilibatkan adalah dalang yang beridentitas Kabupaten Sidoarjo. Karena tujuan program selain pelestarian budaya asli, juga membantu kesejahteraan seniman wayang kulit dan seniman lain yang terlibat. “Karena itu, Ki Didik, tolong itu perawit, waranggono, sinden, tari remo semuanya dirawat agar semua sejahtera,” pesan Tirto.
Dalam kesempatan itu, Tirto juga mengapresiasi beberapa organisasi perangkat daerah, instansi, dan forum koordinasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam) hadir menyaksikan wayang Gagrak Porongan. Tampak hadir perwakilan dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata dan Dinas Perpustakaan dan Karsipan, Kapolsek, Danramil dan perwakilan Camat Kota Sidoarjo. “Terimakasih atas hadirnya, ini menunjukkan kepedulian bahwa pelestarian budaya bukan hanya tangggung jawab Dinas Pendidikan melainkan tanggung jawab semua dinas termasuk masyarakat luas,” cetus alumnus sarjana dan magister dari Universitas Surabaya itu.
Program kebudayaan wayang Gagrak Porongan tidak hanya berdampak langsung pada seniman melainkan juga para pelaku UMKM yang jumlahnya puluhan lapak dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan. “Jadi, tujuan bupati dan wakil bupati menggelar program ini karena pagelaran wayang ini tidak hanya sekedar tontonan tapi juga tuntunan bagi masyarakat. Lebih dari itu juga mendorong bangkitnya UMKM lokal agar lebih maju,” tutup Tirto.

Kepala Desa Rangkah Kidul Warlheiyono tersenyum lebar mendapat kepercayaan menggelar gagrak porongan kali kedua di desanya. Kepala desa senior dan humoris itu bahkan menyatakan kesanggupannya gelar kali ketiga dengan support dana penyelenggaraan. “Kami warga Desa Rangkah Kidul memang sangat senang dengan wayang kulit. Kami siap tahun depan ketempatan lagi dan kami siap menanggung seluruh biaya konsumsi acara wayang kulit,” seloroh Warlheiyono yang sudah tiga periode menjabat kepala desa itu.
Gelaran wayang Gagrak Porongan putaran ke-7 menghadirkan Dalang Ki Didik Iswandi yang membawakan lakon “Lahirnya Anjilo Kencono” yang merupakan bagian dari kisah Ramayana. “Dalam pewayangan Anjilo Kencono itu nama kecil dari Hanuman, kera berbulu emas dan titisan dewa yang berahlak baik, pemberani, sakti, patuh dan taat kepada Tuhan Mahapencipta,” kata Ki Didik.
Ditambahkannya, Anjilo Kencono dihadirkan ke bumi untuk mengabdi pada manusia dan juga para dewa, tugasnya melawan angkara murka yang ditebarkan oleh Rahwana, Raja Alengka. Dalam menjalankan tugasnya, Anjilo Kencono dibimbing atau dituntun oleh Ramawijaya yang merupaka titisan Dewa Wisnu. “Dalam legenda Hindu, Anjilo Kencono menggemparkan kahyangan ketika ia punya keinginan kuat ingin menelan matahari yang disangkanya buah yang indah. Kenekatannya Anjilo membuat murka Dewa Indra. Setelah itu Anjilo Kencono dibimbing Ramawijaya,” urai dalang asas Candi Pare Kecamatan Porong itu.

Harta Karun Sidoarjo
Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dakesda) Kabupaten Sidoarjo, Ribut Wijoto mengapresiasi program pagelaran wayang porongan di 12 lokasi di Sidoarjo. Menurutnya wayang porongan itu merupakan harta karun budaya Sidoarjo yang mempunyai akar kuat di dalam sejarah.
“Literatur tentang seni budaya wayang pertama kali ditemukan di Sidoarjo yakni Prasasti Kuti pada tahun 840 Masehi dan kitab Kakawin Arjuna Wiwaha oleh Empu Kanwa,” tegas Ribut ditemui superradio.id di sela pertunjukkan wayang Gagrak Porongan.
Dijelaskan dalam Prasasti Kuti tercantum kata aringgit dalam bahasa Jawa Kuna yang bila diartikan adalah wayang. Dengan temuan itu, lanjut Ribut, maka hampir semua penelitian tentang wayang selalu rujukan pertamanya adalah Prasasti Kuti yang ditemukan di Sidoarjo.

Sementara itu kitab Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa tak dipisahkan dengan Kerajaan Kahuripan. Dalam kitab itu dikisahkan orang-orang menangis, tertawa melihat wayang sampai lupa bahwa itu (tontotan wayang) adalah hanya sekedar pertunjukan. “Kalau bicara Kerajaan Kahuripan maka diketahui ibu kota kerajaannya berada di Sidoarjo,”terang Ribut, “Karena itu sudah semestinya warga Sidoarjo pada khususnya harus bangga dan turut serta melestarikan budaya wayang Gagrak Porongan ini,” tegasnya.
Lebih jauh Ribut menjelaskan Gagrak Porongan itu berbeda dengan wayang kulit yang lain. Menurutnya gagrak porongan memiliki kekhasan sendiri, di antaranya bentuk fisik wayang, warna musik lebih dinamis karena didominasi kendang bukan gong pada wayang lain, serta bahasa yang digunakan dalang lebih egaliter, bahasa sehari-hari. “Sedangkan wayang Jawa Tengahan, dialog wayang memakai bahasa kromo inggil, kromo madya, dan ngoko,” paparnya. (ton/red)
Tags: gagrak porongan, hanuman, sidoarjo, superradio.id, tirto adi, wayang kulit
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.




