ALIT Tuding Kolonial Hancurkan Sistem Pangan Bangsa dan Kedaulatan Waktu
SR, Surabaya – Yayasan Arek Lintang (ALIT) Indonesia melontarkan kritik keras terhadap ketergantungan Indonesia pada sistem warisan kolonial yang dinilai telah menghancurkan kemampuan bertahan hidup masyarakat.
Direktur Eksekutif ALIT Indonesia, Yuliati Umrah, menegaskan, pengabaian terhadap kalender asli, seperti Kalender Tengger, disebut sebagai akar penyebab krisis pangan dan kesehatan yang melanda generasi muda saat ini.
Menurutnya, rusaknya tatanan hidup manusia modern, bermula dari hilangnya kedaulatan atas waktu. “Salah satu yang merusak agenda manusia adalah karena mereka sudah tidak punya kalender yang asli,” ujar Yuliati, Sabtu (15/8/2026).
Ia menjelaskan, kalender bukan sekadar penunjuk tanggal, melainkan panduan hidup yang menentukan keberlangsungan peradaban.
Yuliati pun menyoroti fenomena kontras di mana masyarakat Tengger tetap stabil di tengah gejolak nasional. Ia menilai keberhasilan tersebut dikarenakan konsistensi mereka memegang teguh adat dan sistem penanggalan sendiri.

“Bagaimana Tengger dengan budaya dan adatnya masih bisa baik-baik saja di tengah banyaknya masalah Indonesia ini. Dan mereka menggunakan kalender adat, kalender Tengger,” ungkapnya.
Kritik tajam juga diarahkan pada pergeseran pola hidup dari bertani menjadi agroindustri yang dipaksakan sejak era kolonial. Sistem ini dianggap secara perlahan menurunkan kualitas hidup dan kemandirian masyarakat.
Alhasil, tanpa sadar, sistem kolonial telah mengubah cara bertahan hidup yang sebelumnya berdaya menjadi sangat bergantung pada industri.
Lebih lanjut, ALIT menyoroti dampak kesehatan yang mengerikan akibat rusaknya pola pikir agraris. Data menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak Indonesia saat ini mengalami penyakit kritis karena mengonsumsi pangan yang tidak lagi alami.
Fenomena ini disebut sebagai akibat langsung dari cara berpikir era kolonial dalam mengelola sumber pangan yang terus diwariskan hingga sekarang. Di wilayah tertentu seperti Maluku, VOC memiliki kebijakan menebang pohon rempah-rempah milik rakyat jika produksinya berlebihan.
Rakyat di daerah penghasil rempah dipaksa untuk hanya fokus menanam tanaman komoditas pesanan VOC. Akibatnya, pertanian pangan lokal (seperti padi atau sagu) telantar, merusak diversifikasi lahan, dan membuat wilayah tersebut menjadi monokultur paksaan yang rawan kelaparan jika gagal panen.

“Sejarah mencatat bahwa kehancuran alam Indonesia dimulai sejak tahun 1700-an ketika VOC masuk dengan sistem monokulturnya,” ujarnya.
Praktik ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menggeser kedaulatan lokal yang sebelumnya telah mapan, bahkan sebelum abad kesatu saat Nusantara sudah menjadi pusat ekspor dunia.
Kritik kritis juga menyasar pada penggunaan kalender asing yang dianggap tidak relevan dengan kondisi geografis Indonesia.
Tak selesai disitu. Penggunaan kalender berbasis lunar murni, seperti kalender Hijriah, dinilai sebagai agenda politik yang dipaksakan dan tidak sesuai untuk wilayah agraris yang lebih membutuhkan metode lunar-solar seperti kalender Jawa atau Tengger.
Untuk itu Sebagai solusi, ALIT mendorong dunia untuk mengadopsi teknik dan rumus hitungan Kalender Tengger. Jika sistem ini dijadikan acuan internasional, Indonesia diyakini akan mencapai kedaulatan sejati. “Kalau kalender Tengger ini jadi acuan untuk dunia, maka akan berdikari,” pungkasnya. (hk/red)
Tags: kalender adat, sistem pangan, superradio.id, voc, yayasan alit
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





