AI: Kunci Revolusi Teknologi Bantu Difabel, tapi Akses Masih Jadi Tantangan

Rudy Hartono - 14 June 2025

SR, Surabaya – Teknologi bantu berbasis kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar tren. Ia menjadi jembatan penting menuju kehidupan yang lebih mandiri bagi penyandang disabilitas.

Data dari WHO dan UNICEF dalam laporan Global Report on Assistive Technology tahun 2022, menyebutkan bahwa lebih dari 2,5 miliar orang di dunia membutuhkan satu atau lebih alat bantu, namun hanya satu dari tiga orang yang benar-benar mendapatkannya.

Angka ini semakin mengkhawatirkan di negara berpenghasilan rendah, di mana akses hanya berkisar 3 persen saja.

AI hadir memperbarui fungsi alat bantu dari sekadar perangkat fungsional menjadi sistem yang adaptif dan cerdas. Misalnya, screen reader kini mampu membaca teks dengan intonasi natural, mengenali konteks visual, hingga menjelaskan isi gambar.

Di sisi mobilitas, exoskeleton berbasis AI bisa menyesuaikan gerakan tubuh untuk membantu berjalan atau berdiri secara otomatis. Bahkan, alat bantu visual seperti kacamata pintar kini mampu mendeskripsikan objek dan membaca teks dalam waktu nyata.

Teknologi berbasis machine learning juga memungkinkan personalisasi: kursi roda otomatis dapat “belajar” kebiasaan pengguna, prostetik dapat mengikuti gerakan alami, dan yang lebih futuristik, brain-computer interface (BCI), memungkinkan kontrol hanya dengan pikiran.

Namun, sebagaimana dilaporkan dalam Assistive Technology: Capacity Assessment oleh WHO, tantangan terbesar tetap pada pemerataan. Banyak teknologi canggih ini belum tersedia secara luas karena mahal dan belum terintegrasi ke dalam sistem kesehatan publik.

Artinya, inovasi saja tidak cukup. Harus ada komitmen global untuk memastikan alat bantu AI bukan hanya milik segelintir, tapi hak semua orang. Karena pada akhirnya, teknologi yang inklusif adalah teknologi yang bisa diakses siapa saja.(*/dv/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.