566 Desa di Jatim Terdampak Kekeringan Kritis

Yovie Wicaksono - 12 September 2019
Kepala BPBD Provinsi Jawa Timur Subhan Wahyudiono. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mencatat selama musim kemarau berlangsung ada sekitar 24 wilayah kabupaten yang tersebar di 180 kecamatan, 566 desa atau kelurahan terdampak kekeringan kritis.

Kepala BPBD Provinsi Jawa Timur Subhan Wahyudiono mengatakan, pengertian dari kering kritis  yang dimaksud adalah ketersediaan air untuk jatah per orang dalam satu hari hanya kurang dari 10 liter. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan air, warga terpaksa mengambil air dengan jarak tempuh tiga kilo meter dari tempat tinggalnya.

“Saat ini kami dengan BPBD kabupaten dan kota sedang droping air bersih hampir 11 ribu rit, isi 6 ribu liter itu ke masyarakat yang mengalami kekeringan kritis,” ujar Subhan di Kota Kediri pada Kamis (12/9/2019).

Hasil Pemetaan yang telah dilakukan oleh tim BPBD Provinsi Jawa Timur berkoordinasi dengan BPBD di berbagai daerah  menyebutkan, dari 38 kota dan kabupaten, daerah yang paling banyak terdampak kekeringan adalah Kabupaten Sampang Madura, dengan rincian 67 desa dinyatakan kering kritis.  Kemudian disusul Tuban, dengan cakupan 55 desa mengalami kering kritis. Dilanjut daerah Pacitan, Ngawi dan Lamongan.

“Daerah yang paling  banyak di Sampang. Kabupaten Sampang itu ada 67 desa, mengalami kering kritis,” ujar Subhan.

Pada umumnya daerah yang mengalami kekeringan tersebut berada di dataran tinggi atau pegunungan. Jika ditinjau dari 566 desa atau Kelurahan yang mengalami kekeringan, masih  diklasifikasikan lagi ada sekitar 199 desa yang tidak memiliki potensi mata air. Sementara sisanya 324 masih ada potensi air.

“Tidak ada potensi airnya itu dibor juga gak bisa, sumber juga tidak ada. Kalau mau mengambil perpipaan itu, seperti Mojokerto diatas  Gunung Penanggungan, kalau ambil dari Gunung Arjuno 15 kilometer jauhnya,” imbuhnya.

Sementara hasil analisa BMKG menyebutkan jika awal bulan Oktober 2019  sudah mulai turun hujan, namun tidak secara keseluruhan, melainkan hanya mencakup wilayah atau daerah tertentu seperti Malang, Banyuwangi, Lumajang. Subhan memperkirakan hujan akan turun merata pada bulan November. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.