40 Aktor Lintas Agama Perankan “Jalan Salib” Bernuansa Jawa

Rudy Hartono - 19 April 2025
Sebelum disalib dan siksa, prajurit dan serdadu menangkap Yesus disaksikan banyak warga yang pada saat itu mengejek dan mengolok olok Yesus. Itu bagian drama Jalan Salib di Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo, Jalan Widodaren 15, Surabaya, Jumat (18/4/2025). (foto:niken oktavia/superradio.id)

SR, Surabaya – Sebuah perayaan Jumat Agung yang unik tersaji di Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo, Jalan Widodaren 15, Surabaya, Jumat (18/04/2025). Ratusan umat menghadiri visualisasi Jalan Salib yang tahun ini dikemas dengan nuansa budaya Jawa. Para pemeran tampil dengan busana khas Jawa seperti kebaya, batik, beskap, hingga udeng, menghadirkan perpaduan spiritualitas Kristiani dan kearifan lokal.

Pertama kalinya digelar dalam balutan budaya lokal, visualisasi Jalan Salib ini tidak hanya menampilkan aspek religius, tetapi juga keindahan seni pertunjukan. Drama ini melibatkan 40 aktor lintas agama yang berasal dari Orang Muda Katolik (OMK), komunitas lintas iman, dan berbagai komunitas seni lainnya. Persiapan dilakukan selama tiga minggu penuh latihan intensif.

“Adat Jawa dipilih karena tema Paskah tahun ini adalah budaya dan adat Jawa. Kami ingin menampilkan visualisasi yang lebih menyentuh, sekaligus membumikan makna pengorbanan Kristus dalam konteks budaya lokal,” ujar Ketua Panitia Paskah 2025, Ni Ketut Santhi Widyawati.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari Philippus Neri Tri Nugroho, pria berusia 43 tahun lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta, yang memerankan sosok Yesus. Ia adalah seorang guru seni di SMA Santa Louise 2 Surabaya sekaligus alumnus ISI Surakarta.

Pemeran Yesus menampilkan kisah Sang Juru Penyelamat ketika dalan derita memikul salib di Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo, Jalan Widodaren 15, Surabaya, Jumat (18/4/2025). (foto:niken oktavia/superradio.id)

“Saya mencoba merasakan bagaimana menjadi Yesus. Sebagai ayah, suami, guru, ketika disakiti oleh anak, istri, murid, itu sudah terasa sakit. Apalagi Yesus yang mencintai semua manusia. Saya mencoba menghayati setiap jalan, setiap cambukan, setiap paku. Itu pedih sekali. Bagi saya, Yesus adalah misteri dan ini adalah usaha saya menginterpretasikan penderitaan-Nya,” ungkap pria yang juga menjadi guru di SMA St. Louis 2 Surabaya itu.

Sementara itu, Wahyu yang memerankan serdadu Pilatus, mengaku perannya sebagai tokoh antagonis justru menjadi sarana refleksi pribadi. “Saya harus melawan ego saya sendiri. Peran ini justru mengajak saya merenung bahwa tidak semua yang dikatakan salah oleh banyak orang itu benar-benar salah. Perlu kebijaksanaan dalam memilah. Kesenian memang fleksibel dan universal, jadi saya tidak melihat hambatan mendalami karakter ini dalam balutan budaya Jawa,” tuturnya.

Antusiasme dan apresiasi juga datang dari para umat. Karjan, salah satu umat yang hadir, mengaku sangat tersentuh.

“Dari sisi seni sangat bagus. Nada, teks, dan aktornya pas. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi peristiwa iman. Tuhan menunjukkan cinta-Nya sampai total, bukan omon-omon, melalui pengorbanan dirinya untuk seluruh manusia. Dengan balutan budaya Jawa, ini adalah bentuk inkulturasi, bagaimana budaya setempat masuk ke dalam liturgi gereja. Ini mendekatkan Tuhan kepada umat,” katanya. (nio/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.