Yuk! Mengenal Pranata Mongso Sistem Kalender Adat Tengger yang Mengatur Kehidupan

Rudy Hartono - 18 August 2026
Pranata Mongso kalender adat masyarakat Tengger (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Masyarakat Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo terus melestarikan kearifan lokal melalui pemahaman mendalam terhadap pranata mongso atau aturan musim yang tertuang dalam kalender tradisional mereka.

Langkah ini diambil bukan sekadar untuk keberlangsungan ekonomi, melainkan sebagai instrumen vital dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta yang menjadi tempat tinggal mereka.

Romo Eko Cokronoto Bromo Telabah, sesepuh masyarakat Tengger, menegaskan bahwa orientasi hidup warga tidak semata-mata mencari keuntungan materiil dari lahan pertanian.

Pandita Tengger Brang Kulon (Romo) Rsi, Eko Cokronoto Bromo Telabah saat ditemui usai menjadi pembicara “Dari Tengger untuk Dunia” di Wisma Jerman Surabaya, Sabtu (15/8/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

“Orang Tengger ini kegiatan sehari-hari itu tidak hanya untuk mencari nafkah atau mencari makan, untuk melangsungkan sebuah kehidupan saja. Tidak. Tetapi di sisi lain orang Tengger itu yang paling penting itu adalah menjaga alam,” jelasnya, Sabtu (15/8/2026).

Seluruh aktivitas warga, baik secara individu maupun komunal, dikendalikan secara ketat oleh penanggalan Tengger agar tidak melanggar harmoni alam. Kalender ini mengatur jadwal upacara adat hingga rutinitas harian warga lereng Bromo.

“Terkendali apa yang harus dilakukan oleh orang Tengger dan apa yang sebenarnya tidak dilakukan dulu… semua itu berpatokan pada penanggalan,” tambah Romo Eko.

Dalam hal pertanian, masyarakat mengenal dua musim utama yang sangat krusial, yakni musim rendeng (penghujan) dan musim ketiga (kemarau).

Pengetahuan akan musim ini membantu petani menentukan kapan waktu yang tepat untuk mengolah lahan dan kapan harus menghentikan aktivitas sejenak demi memulihkan kondisi tanah secara alami.

Romo Eko menjelaskan adanya aturan khusus mengenai masa istirahat tanah atau jeda tanam agar lahan tidak rusak akibat eksploitasi berlebihan. “Sekarang ini tanah masih perlu diistirahatkan atau perlu dihentikan itu. Jadi ada jeda. Jadi tanah atau alam ini tidak serta-merta terus ditanami atau direkayasa,” ungkapnya.

Untuk masa tanam yang dinilai paling produktif, kalender Tengger menunjuk bulan Kapat dan Kalima sebagai periode emas, khususnya untuk komoditas sayuran. “Di bulan Kapat, Kalima ini cocok untuk menanam sayur itu. Jadi segala tanaman-tanaman sayur itu cocok untuk ditanam di masa-masa itu,” tuturnya.

Secara administratif, bulan-bulan terbaik untuk bercocok tanam tersebut jatuh pada periode akhir tahun dalam kalender nasional. “Kalau di kalender Masehi itu di bulan September, Oktober, November. Itu yang paling bagus untuk menanam sayur-sayur,” tambah Romo Eko memberikan panduan praktis konversi waktu.

Sebaliknya, pada saat ini wilayah Tengger sedang memasuki masa ketiga yang dinilai tidak ideal untuk memulai penanaman baru karena faktor cuaca kemarau.

“Menurut bulan Tengger, ketiga ini sekarang ini kurang baik untuk menanam,” peringatnya, menunjukkan kepatuhan warga terhadap siklus alami tanpa memaksakan kehendak manusia.

Meskipun asal-usul penanggalan ini tidak tercatat secara tertulis sejak abad berapa dimulai, nilai-nilainya tetap dipegang teguh tanpa adanya pergeseran.

“Kami bahkan sesepuh Tengger itu sudah tidak tahu mulai kapan, yang jelas sudah turun-temurun dan belum ada yang melenceng sampai dengan sekarang,” tegas Romo Eko mengenai konsistensi tradisi mereka.

Pihaknya pun menyatakan keterbukaan bagi daerah lain yang ingin mengadopsi prinsip penghormatan terhadap musim ini. Baginya, setiap wilayah perlu memahami mongso-nya sendiri untuk mencapai keselarasan.

“Barangkali ini bisa dipakai untuk lain daerah Tengger, monggo silakan kalau barangkali cocok atau tepat untuk dilakukan seperti dalam hal menanam dan lain-lainnya,” pungkasnya. (hk/red)

 

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.