Romo Pratisto Kritik Gejala Pudarnya Gotong Royong Ditukar Uang Denda

Rudy Hartono - 18 August 2026
Romo Agustinus menjadi pembicara di Seminar Kebangsaan bersama Gus Aan Anshori (kiri) dan moderator Romo Deddy di Paroki Salib Suci Tropodo, (16/8/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Menghadapi tantangan masyarakat urban yang kian individualis, Paroki Salib Suci Tropodo menggelar Seminar Kebangsaan bertajuk “Gotong Royong: Bersama Membangun Bangsa yang Rukun, Adil, dan Berkeadaban,” Minggu (16/8/2026).

Kegiatan ini bertujuan menanamkan kembali nilai-nilai warisan leluhur kepada generasi muda di tengah situasi dunia dan bangsa yang dinilai sedang tidak stabil.

Dekan Fakultas Filsafat UKWM Surabaya, RD. Agustinus Pratisto Trinarso, menegaskan bahwa gotong royong adalah “permata bangsa” yang sudah mengakar sejak zaman Kerajaan Kutai dan Majapahit.

Melalui bukti sejarah pada Prasasti Yupa dan lembaga Pahum Ngarendra di masa Majapahit, terbukti bahwa musyawarah serta kerja sama lintas identitas telah menjadi kunci kejayaan nusantara berabad-abad silam.

Namun, Romo Pratisto menyayangkan mulai pudarnya nilai tersebut pada generasi milenial yang hidup di lingkungan perkotaan.

“Anak-anak muda sekarang butuh ditanamkan lagi semangat gotong royong ini agar tidak lupa dengan warisan lokal kita. Jangan sampai mereka hanya terkurung dalam kelompoknya sendiri dan kehilangan kepekaan sosial,” ujar Romo Pratisto saat memaparkan materi di Balai Paroki (16/8/2026).

Salah satu tantangan terbesar di era urban saat ini adalah fenomena “jasaisme,” di mana segala sesuatu diukur berdasarkan uang atau jasa. Romo Pratisto mengkritik keras budaya warga kota yang seringkali mengganti kehadiran fisik dalam kegiatan lingkungan dengan materi semata.

“Gotong royong itu adalah kehadiran, bukan sekadar jasa. Jangan sampai kerja bakti di lingkungan hilang maknanya hanya karena warga lebih memilih membayar iuran daripada hadir secara fisik,” tegasnya.

Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Pastor Kepala Paroki Salib Suci Tropodo, RP. Yohanes Paulus Robin, SVD, mengingatkan bahwa semangat kebangsaan tidak boleh padam di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.

“Kita harus menyadari bahwa situasi dunia dan bangsa kita saat ini sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Romo Robin dalam sambutannya.

Menurut Romo Robin, umat Katolik memiliki tanggung jawab moral untuk terus menggelorakan semangat persatuan melalui dialog dan aksi nyata di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa gotong royong harus menjadi kekuatan utama bagi warga negara untuk melewati berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks dan berat.

Secara filosofis, Romo Pratisto menjelaskan bahwa jati diri asli manusia Indonesia adalah makhluk “ko-eksistensi” yang hakikatnya menyatu dalam kebersamaan, bukan individu yang terpisah. Budaya mudik dan patungan saat berkumpul adalah bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia tidak pernah bisa lepas dari relasi sosial dengan sesama.

Romo Agustinus mengharapkan terjadi perubahan paradigma dari suasana yang sekadar tenang namun bergejolak di bawah permukaan (tintrim), menjadi kerukunan yang tulus dan damai (tentrem). Revitalisasi gotong royong di tingkat akar rumput, seperti RT dan RW, menjadi kunci utama untuk merawat kedaulatan bangsa Indonesia yang adil dan makmur di masa depan. (js/red)

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.