Wayang Suket hingga Ludruk Garingan Pentas di Institut Francais Indonesia

Rudy Hartono - 22 September 2025

SR, Surabaya – Ada yang menarik di auditorium Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya pada Sabtu (20/9/2025). Tempat yang biasanya ramai dengan aktivitas musisi Prancis itu, untuk pertama kali, diambil alih oleh kesenian jawa.

Menggandeng Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), IFI menjadi tuan rumah acara bertajuk “Pertunjukan Seni Sanggar Anak Merdeka Indonesia”.

Kegiatan pun berlangsung meriah. Emosi penonton seakan diobrak-abrik dengan ragam seni yang ditampilkan. Kegiatan diawali dengan pembacaan puisi karya Khairil Anwar berjudul Bung Karno Mari Kita Bikin Janji. Dilanjutkan dengan Wayang Suket bertajuk si Baik dan si Jahat.

Atmosfer ruangan pun makin intens ketika  Hanifah Intan (21) tampil monolog berjudul Perempuan dan Demokrasi. Sarjana Ilmu Politik dari UIN Sunan Ampel itu sukses mengaduk aduk emosi  penonton untuk merasakan perjuangan perempuan di masa-masa sebelum kemerdekaan.

Usai dibuat haru biru oleh monolog perempuan sarjana Ilmu Politik UIN Sunan Ampel itu, penonton diajak bergelak tawa oleh guyonan dan kritik satir khas seniman ludruk Cak Meimura dalam ludruk garingan bertajuk Besut–Rusmini Sambang Sinambang.  “Kesenian ludruk adalah jiwa nya Kota Surabaya yang harus dijaga. Nilai patriotisme yang dikenalkan lewat kisah heroik seperti Sarip Tambak Oso, Sawunggaling, hingga Joko Dolog harus sampai ke telinga generasi muda,” pesan Cak Meimura yang juga Ketua Samin, ditemui usai pentas.

Selain menghidupkan lagi ludruk garingan, Cak Meimura tergerak menghadirkan  wayang suket yang ia kenalkan ke anak-anak. Nilai-nilai kehidupan, ketangguhan, dan cinta tanah air terus dibangun lewat berbagai aktivitas di Sanggar Anak Merdeka Indonesia (Samin), Perumahan Gunung Anyar Emas, Surabaya.  “Rumput ini kan satu tumbuhan yang tidak pernah mati diinjak hidup lagi saya ingin anak anak mendapat filosofi itu sehingga bisa menjadi orang yang tangguh,” sebutnya.

Ia juga memuji  monolog yang mengungkap peran besar kaum perempuan dalam perjuangan bangsa Indonesia. “Mengambil setting 40 hari pertempuran di Surabaya, monolog itu berhasil menunjukkan kontribusi ibu-ibu yang sangat besar dalam peristiwa 10 November 1945,” komentar Cak Meimura.

Cinta Keberagaman Budaya

Bukan tanpa alasan. Direktur IFI Surabaya, Vincent Padaré menyebut, hal itu sengaja untuk mendukung keberagaman budaya. Pihaknya mengaku telah lama ingin berkolaborasi dengan kesenian lokal dan sangat senang bisa memfasilitasi para seniman dan budayawan.

“Terima kasih pada semua yang datang utamanya pak meimura dari Samin, wayang suket dan ludruk. Semoga kalian bisa menikmati pertunjukan ini dan menghabiskan waktu yang memorable di sini,” ujarnya saat memberi sambutan secara daring.

“Ini untuk menularkan ke genarasi muda, untuk mengenal dan semoga makin mencintai budaya lokal. Kami mendukung keberagaman kebudayaan jadi selain memperkenalkan seni Prancis, kami juga suka mendukung bakat muda Indonesia,” pungkasnya.

Hadir di antara penonton, anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurniawati. Politisi dari PDI Perjuangan itu  turut memberikan apresiasi. Indah yang sejak kecil akrab dengan kegiatan berbau seni budaya mengaku senang dan akan mendukung agar ludruk bisa kembali dikenal dan tenar seperti dulu.

“Tetaplah seperti itu Cak Meimura. Saya rindu suatu saat ada tobong lagi, saya ingin menghidupkan ludruk karena itu yang relevan dan cocok untuk Surabaya,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.