Wayang Beber Pacitan, Warisan Budaya Majapahit Tembus Pasar Dunia
SR, Surabaya – Seni wayang beber merupakan salah satu peninggalan budaya era Kerajaan Majapahit. Keunikan wayang beber, tokoh dan jalan ceritanya dituangkan melalui lukisan di atas gulungan daluang, yakni kertas khusus yang dibuat dari kulit pohon saeh yang ditumbuk hingga menjadi lembaran kertas yang halus dan kuat.
“Saat ini lakon wayang beber dilukis di atas kertas Samson dan kanvas, karena proses pembuatan daluang sangat panjang. Sedangkan kertas Samson dan kanvas mudah diperoleh dan lebih ekonomis,” kata Febri Indra Hermawan, seniman wayang beber asal Pacitan, di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur dalam Gelaran Pekan Wayang Jawa Timur, Kamis (7/11/2024).
Dijelaskan Febri, cerita atau lakon pada wayang beber diaplikasikan di atas gulungan gambar. Saat pementasan wayang beber, setiap gulungan gambar memuat empat rangkaian adegan, dimana satu adegan itu disebut jagong. Nantinya, Sang Dalang akan membuka atau membeber jagong lembar demi lembar.
“Misal kisah cinta legendaris dari era Majapahit, Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji, pada wayang beber dibuat dalam 24 jagong. Di Pacitan, satu gulungan ada 4 jagong maka kisah Panji Asmorobangun itu memerlukan 6 gulungan dalam satu pentas,”papar Febri.

Lebih jauh Febri mengklaim bahwa wayang beber ini diminati kolektor seni dari mancanegara. Bahkan sepanjang 2023, pihaknya telah mengirim wayang beber ke delapan negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar serta Vietnam, hingga mencapai Australia.
Dikatakan, harga jual wayang beber diperhitungkan per jagong dan besaran lembar gulungan. “Kalau dari kertas ukuran kecil, ya mungkin satu jagong Rp 1 juta, tapi kalau gulungan yang besar harganya sampai Rp 2 juta per jagong,” kata Febri.
Untuk menyelesaikan pembuatan satu gulung wayang beber dibutuhkan waktu sekitar tujuh hari hingga satu bulan, tergantung detail jagong yang dilukis. “untuk jagong yang biasa satu gulungan bisa selesai tujuh hari. Tapi kalau jagong dibuat mengikuti pakem asli, proses pengerjaannya penuh ketelitian dan bisa selesai satu bulan,” urai laki-laki yang menjadi seniman wayang beber sejak 2021 itu.
Yang menjadi tantangan dan kegalauan Febri saat ini masih sedikit generasi muda yang tertarik dengan seni wayang beber, padahal wayang beber ini sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Generasi muda diharapkan dapat mencintai dan melestarikan seni ini agar tidak punah.
“Karena menjadi dasar karakteristik anak bangsa untuk kembali kepada budaya. Kalau tidak menyenangi dari anak muda ya akan punah. Kalau istilah jawa itu ‘eman-eman’ karena sudah diakui UNESCO tapi tidak ada wayangnya atau sudah punah. Menjadi kemirisan tersendiri di era sekarang,” keluh Febri.
Untuk menghadapi tantangan ini, Febri bersama komunitasnya yang bernama Sanggar Lung di Pacitan bahkan membuat film animasi tentang wayang beber sebagai upaya agar seni ini tetap relevan di era digital.
Febri juga berharap pemerintah memberikan dukungan lebih, dengan menyediakan ruang dan apresiasi bagi para seniman. “Semoga pemerintah memberikan ruang dan apresiasi yang lebih bagi kami sebagai seniman untuk terus memberikan ruang untuk berkreasi dan melestarikan dengan baik,” harapnya.
Dengan komitmen bersama, Febri berharap wayang beber terus menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia, yang tidak hanya diapresiasi di dalam negeri tetapi juga memikat penggemar dari berbagai penjuru dunia. (nio/red)
Tags: Cak Durasim, era majapahit, pekan wayang, seniman pacitan, superradio.id, wayang beber
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





