Warga Kediri Gelar Salat Istisqo dan Ritual Tiban

Yovie Wicaksono - 18 November 2019
Ritual Cambuk Tiban di Dusun Gedangan, Desa Mojo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Minggu (17/11/2019) siang. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Ratusan  warga Dusun Gedangan, Desa Mojo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, menggelar salat Istisqo dan ritual cambuk tiban, Minggu (17/11/2019) siang.

“Tiap tahun kalau belum turun hujan, diadakan salat Istisqo minta hujan. Nanti setelah itu mudah-mudahan diijabah oleh Allah, karena banyak kekeringan sawah dan ladang,” ujar tokoh agama setempat, Lukman Hakim.

Selesai menggelar salat Istisqa, kemudian dilanjut dengan pembacaan doa yang dimana secara bersamaan para jamaah membalik sorban  yang mereka bawa di atas punggung.

Lukman Hakim menjelaskan, sorban tersebut sengaja dibalik disela-sela pembacaan doa agar Tuhan secepatnya membalik musim kemarau untuk diberi hujan.

Setelah itu, masyarakat setempat menggelar ritual cambuk tiban yang merupakan tradisi turun temurun untuk meminta hujan yang tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang.

Uniknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh pria dewasa melainkan juga anak-anak.

Peserta ritual cambuk tiban tidak hanya berasal dari Dusun Gedangan melainkan juga tetangga desa sekitarnya. Mereka secara sukarela datang untuk meramaikan kesenian tradisional tersebut.

Para peserta kesenian tiban itu kemudian terlibat saling serang menggunakan cambuk yang terbuat dari bambu rotan. Meski saling serang, setelah acara selesai mereka tetap bersahabat. Tidak ada dendam maupun permusuhan satu sama lain.

Pengalaman dari tahun sebelumnya, biasanya setelah pelaksanaan salat Istisqo dan ritual cambuk tiban selesai, tidak lama akan turun hujan.

“Turun hujan ada yang langsung setelah selesai pernah. Terkadang jarak 2 jam atau 5 jam. Paling lama 5 hari,” ujarnya.

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Mojo Kediri, Aipda Aris Sunarko, juga turut berpartisipasi dalam tradisi kebudayaan cambuk tiban. Ia masuk ke dalam arena, kemudian melepas seragamnya dan terlibat adu cambuk dengan peserta.

Menurutnya, kebudayaan ini sangat menarik, ia juga berharap budaya ini masih tetap terjaga kelestarianya.

Sekedar informasi, imbas musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat sumber mata air yang ada di lereng Gunung Wilis menyusut.

“Hampir 8 bulan lebih tidak ada hujan, padahal sebelah selatan kota sana sudah ada. Tetapi Wilayah Mojo saja yang tidak ada hujan. Dapat air dari sumber, tapi jelas minim (kurang). Cukup untuk minum dan memasak saja. Disini ada sekitar 400 KK lebih,” imbuh Lukman Hakim. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.