Temukan Kerusakan Lingkungan Sungai, Ecoton Minta Audiensi dengan Gubernur Jatim

Yovie Wicaksono - 9 September 2022

SR, Surabaya – Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) menyerahkan berkas pengaduan kerusakan sungai dan permintaan audiensi ke Kantor Gubernur Jawa Timur, Kamis (9/9/2022).

Manager Divisi Advokasi dan Litigasi  Ecoton Kholid Basyaiban mengatakan, permintaan audiensi tersebut berdasar pada banyaknya temuan limbah yang mereka dapat dari kegiatan Susur Sungai Surabaya pada 29-31 Agustus 2022 lalu.

Temuan-temuan itu diantaranya, timbunan sampah, bangunan liar, pohon plastik, hasil brand audit sampah, kadar pencemaran outlet limbah dari hasil uji sampel air dan mikroplastik. 

“Dari kegiatan yang dilakukan selama 3 hari tim Relawan dan Ecoton, berhasil mengidentifikasi dan mengelola data berupa 1152 bangunan liar, 475 timbulan sampah liar, 566 pohon plastik dan 7 outlet limbah selama menyusuri sungai Surabaya dari Mlirip, Mojokerto sampai Gunungsari, Kota Surabaya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, hasil uji kualitas air dari kegiatan susur sungai menunjukan angka yang melebihi baku mutu yang tertera di PP Nomor 22 tahun 2021 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Contohnya, di uji kualitas air yang dilakukan di outlet limbah pabrik tepung ‘Rose Brand’ Mojokerto dan berhasil didapatkan data hasil pengujian air berupa TDS (Total Dissolve Solid) berkisar 680 ppm, Nitrat 1 ppm, Nitrit 0,3 ppm dan Fosfat 30 ppm.

“Harapannya, instansi yang berwenang lebih sigap dan intens melakukan pengawasan terhadap aktivitas buangan di outlet perusahaan di sepanjang Sungai Surabaya,” ungkapnya.

Sedangkan hasil uji mikroplastik yang dilakukan, diketahui jenis mikroplastik yang paling banyak adalah fragmen dengan jumlah presentasi 57%. Mikroplastik jenis fragmen berasal dari potongan atau remahan sampah plastik bahan keras yaitu jenis botol minum, sachet kemasan, tutup botol dan lain-lain. 

Dan dari hasil Brand Audit, terdapat 3 perusahaan yang berkontribusi menyumbangkan sampahnya diantaranya adalah (Wings 44%, Indofood 21%, Forisa 15% dan sisanya adalah produsen lainnya). Mayoritas sampah yang berhasil ditemukan berupa sampah plastik sachet (70% dari jenis sampah lainnya).

Jika hal ini tidak ditindaklanjuti, kata Kholid, maka akan berdampak ke kesehatan manusia dan rusaknya ekosistem sungai.

“Surat pengaduan dan permintaan audiensi yang kami kirimkan, bertujuan agar Gubernur Jawa Timur selaku pemangku kepentingan segera menindaklanjuti hasil temuan tersebut melalui rekomendasi pemulihan yang kami usulkan,” ujarnya.

Karena itu, lewat surat tersebut ia berharap para instansi yang berwenang dapat mendorong produsen polluter sampah untuk segera membuat dokumen/perencanaan peta jalan pengurangan sampah seperti apa yang telah diamanatkan dalam Permen LHK Nomor 75 tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

“Dokumen perencanaan pengurangan sampah tersebut, merupakan bentuk upaya keseriusan yang dilakukan produsen untuk melakukan kiat tanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.