Surabaya dan Kesenian Ludruk Tak Dapat Dipisahkan

Rudy Hartono - 20 August 2024
Pelawak dan pemain ludruk Kartolo (kanan) serta pemain lainnya mementaskan ludruk berlakon 'Semanggi Suroboyo' episode 'Deloken Disek' di Gedung Balai Budaya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (24/3/2019). Pentas ludruk yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan komunitas Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara tersebut mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip '5 Jangan' dalam menggunakan uang Rupiah yaitu Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distapler, Jangan Diremas, dan Jangan Dibasahi serta untuk mengecek keaslian uang Rupiah menggunakan metode 3D (Dilihat-Diraba-Diterawang). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/aww.

SR, Surabaya – Ludruk merupakan kesenian teater rakyat Jawa Timur yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Di Surabaya ludruk masih kerap dipentaskan, bertahan meski hanya dimainkan oleh beberapa puluh orang.

“Ludruk tumbuh dari ekspresi rakyat kebanyakan. Ludruk merupakan salah satu jenis teater tradisi,” kata Cak Aqsi Jihad  Sakti , finalis Pemilihan Cak dan Ning tahun 2024, Senin (19/8/2024).

Cak Agsi menyampaikan, Surabaya dan kesenian ludruk seakan tidak dapat dipisahkan. Ludruk memang seakan sudah menjadi ciri khas sebuah kesenian asal Jawa Timur ini. Ludruk merupakan seni pertunjukan teater tradisional Jawa yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bersumber apa yang terjadi di tengah-tengah kehidupan rakyat.

Aqsi Jihad Sakti ( finalis Pemilihan Cak dan Ning tahun 20240)

Cak Aqsi mengajak teman-teman generasi muda perlu mengenal kesenian dan kebudayaan Indonesia yang sangat banyak ragamnya. Dengan mengenal, akan lebih mudah untuk tertarik dan mempelajarinya. Selanjutnya akan muncul rasa ikut memiliki dan pada akhirnya tumbuh rasa mencintai seni dan budaya sendiri.

“Masuknya berbagai kebudayaan asing ke Indonesia menjadi salah satu penyebab lunturnya kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan nusantara. Hal tersebut bisa jadi karena kurangnya pembelajaran mengenai budaya yakni kearifan lokal daerah,” kata Cak Aqsi.

Ia mengaku antusias ketika diberi kesempatan ikut ikut siaran ludruk RRI Surabaya. “Saya merasa terhormat bisa bertemu seniman ludruk profesional untuk melihat dan belajar bahkan mendapat kesempatan bermain bersama para seniman, sungguh pengalaman yang indah dalam hal seni khususnya ludruk,”ujarnya.

Ditambahkan Angsi, sebagai anak muda Suroboyo semoga bisa beradaptasi dengan  ludruk di kehidupan yang modern. Serta tidak melupakan kesenian asli Surabaya ini. “Arek-arek enom Suroboyo ojo sampe nge lali no suroboyone, ayo podo ngelestarino Ludruk lek isok sampe melu main ludruk sebagai bukti awak dewe cinta karo kutho Suroboyo,”ucapnya mengakhiri. (*/rri/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.