Sopir Ambulans Covid-19 : Tak Ada Jam Kerja, Dianggap Meresahkan hingga Korbankan Keluarga

Yovie Wicaksono - 31 July 2021
Sopir Ambulans Pengantar Jenazah Pasien Covid-19 Bersiaga 24 Jam Selama Pandemi. Foto : (Antaranews/Rivan Awal Lingga)

SR, Surabaya – April 2020, menjadi momen yang tak pernah terlupakan bagi Ilham Dwi Cahyono (30). Setelah cuti selama satu minggu untuk mendampingi istrinya melahirkan anak pertama, Ilham harus kembali bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter (dr) Soetomo, Surabaya, salah satu rumah sakit rujukan Covid-19.

Saat itu, Ilham yang sejak awal 2017 menjadi sopir kepala bagian kepegawaian RSUD dr Soetomo dan sopir ambulans jenazah, mendapat tugas baru sebagai sopir ambulans jenazah Covid-19 dan sopir ambulans pasien Covid-19 dari ruang IGD RSUD dr Soetomo menuju ruang isolasi khusus.

“Jabatan” baru ini, tak serta merta begitu saja, karena Ilham dibekali dengan pelatihan khusus dari tim rumah sakit.

Semenjak menjadi sopir ambulans jenazah dan pasien Covid-19, Ilham mengatakan, kondisi saat ini jauh lebih parah dibandingkan tahun lalu. Ibarat kata, tak ada lagi jam kerja. Ia harus tetap mengantarkan jenazah sekalipun lewat dari jam kerjanya yang seharusnya 7 jam per shift. Bahkan, tak jarang ia bekerja selama 24 jam karena mengantarkan jenazah ke luar kota.

Libur dua hari dalam satu minggu yang menjadi haknya untuk bisa berkumpul bersama anak dan keluarga terpaksa ia relakan lantaran tak ingin ada penumpukan jenazah di ruang forensik rumah sakit.

“Kalau melebihi jam kerja ya sering. Kapan hari overload, jadi yang libur tetap masuk untuk membantu sopir lainnya agar jangan sampai ada penumpukan jenazah,” katanya.

Kondisi ini dirasakan Ilham, mulai akhir Juni hingga saat ini.

Sekadar informasi, sejak awal pandemi, rata-rata dalam satu bulan ada sekira 150-250 jenazah. Kemudian angka kematian pasien Covid-19 sempat tinggi pada Januari 2021 (260 jenazah). Lalu menurun di bulan April (50-60 jenazah) dan kembali merangkak naik di bulan Juni dengan total sekira 330 jenazah.

“Bulan ini top rekor, sampai tanggal 27 Juli itu sudah ada 750 jenazah hanya dari Soetomo saja. Satu shift yang berisi 5 sopir itu perkiraan bisa membawa antara 15-20 jenazah. Rekor pernah dalam satu hari, tiga shift total membawa 45 jenazah,” tandasnya.

Ilham sendiri rerata mengantarkan 5-6 jenazah Covid-19 dalam satu shiftnya. Paling banyak dengan tujuan Kota Surabaya dan luar kota seperti Banyuwangi, Madura, Ngawi, Situbondo, dan Tuban.

Tak jarang, Ilham juga membawa dua jenazah sekaligus dalam ambulans jika lokasi pemakamannya sama. Hal itu dilakukan untuk mengefisiensikan waktu. Sesuai protokol kesehatan, Ilham terbiasa berkendara sendiri dan hanya ditemani peti jenazah, kecuali saat mengantar keluar kota.

Padatnya jadwal pengantaran jenazah, belum lagi jauhnya jarak yang harus ditempuh, tak jarang memaksa Ilham harus mengenakan alat pelindung diri berupa baju hazmat dan masker dua lapis yang membuatnya gerah dan engap selama berjam-jam, bahkan pernah hingga 12 jam.

“Surabaya ini kan panas ya, kemudian pakai APD. Ya memang agak aneh rasanya saat awal itu, tapi ya gimana lagi ini tameng kita. Apalagi musuhnya tidak terlihat. Sekalipun kalau mau makan atau minum susah, harus nahan dulu kalau mau buang air kecil dan sebagainya, karena kan kita tidak boleh melepas APD sembarangan,” kata Ilham.

Dalam satu hari, rerata Ilham harus 5-6 kali ganti APD. Begitu juga untuk mandi, bisa 5-6 kali dalam sehari. Sampai rumah pun ia mandi lagi dan langsung merendam semua pakaian yang ia kenakan.

Persoalan lain yang dihadapi Ilham, adalah terkait sikap warga. Pernah ada keluarga pasien Covid-19, meminta agar jenazah dikeluarkan dari peti untuk bisa kembali dimandikan dan disalati. Hal ini dialami beberapa kali saat mengantarkan jenazah pasien Covid-19 di wilayah Madura. Tak jarang, ia dan Satgas Covid-19 setempat memberikan pengertian.

Ia juga dihadang dan diminta mematikan sirine ambulans oleh warga yang merasa resah saat mendengar suara raungan ambulans melintasi wilayahnya.

“Sekarang kalau mengantarkan jenazah pasien Covid-19 di daerah Keputih sirine harus dimatikan, karena warga merasa resah. Dimanapun, kami saat kembali setelah mengantarkan jenazah, sirine harus dimatikan,” jelasnya.

Tak jarang ia juga mendengar perkataan yang kurang mengenakkan dari warga.

“Di Keputih itu ada warga yang bilang ‘ambulans kosong ngunu kok mondar mandir terus mas’. Ya saya cuma jawab ‘njenengan ikut saja pak biar tau bagaimana kondisinya, satu shift saja’. Karena kita yang tahu di lapangan seperti apa,” tegasnya.

Ilham merasa nelangsa. Apa yang dilakukannya justru dianggap memiliki niat buruk, yakni untuk meresahkan warga. Padahal sejatinya, ia tidak ingin ada korban jiwa akibat Covid-19 yang membuatnya harus menanggalkan waktu buat keluarga, dan nyaris tidak bisa menemani masa bertumbuh sang putra.

“Tapi kembali lagi, ini sudah risiko,” tandasnya.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.