Sikapi Riset ITB, Jatim Siapkan Kampung Siaga Bencana dan Desa Tangguh

Yovie Wicaksono - 30 September 2020
Pemprov Jatim menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Tsunami di Wilayah Jawa Timur secara daring, Selasa (29/9/2020). Foto : (JNR)

SR, Surabaya – Menyikapi hasil Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait potensi terjadinya tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur yang dimuat di beberapa media nasional belum lama ini, Pemprov Jatim menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Tsunami di Wilayah Jawa Timur secara daring, Selasa (29/9/2020).

Dalam kesempatan tersebut Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, hasil tim riset ITB tersebut, diharapkan bisa dijadikan masukan bagi pemerintah, sehingga bisa mengantisipasi serta mengambil langkah bijak di setiap daerah.

“Informasi harus disampaikan dengan bijak ke masyarakat, sehingga tidak terkesan menakut-nakuti,” harapnya. 

Menurut Khofifah, sejak tahun lalu, Jatim telah memiliki kampung siaga bencana, dan desa tangguh di daerah-daerah yang rawan bencana. “Di desa siaga bencana dilatih beberapa orang agar tahu cara mengantisipasi jika terjadi bencana,” ungkapnya.

Sementara perwakilan BMKG Pasuruan, Suwarto menyampaikan, beberapa alat dan teknologi untuk mendeteksi gempa dan tsunami sudah dipasang di banyak wilayah desa siaga bencana, diantaranya 40 accelerograph, 11 DVB, 1 WRS, 18 WRS NewGen, 15 intensity meter, 1 Magdas, 4 sirine, 24 seismograph, 5 seismograph SP, dan 3 tide gauge.

“Dengan terpasangnya alat dan teknologi pendeteksi ini, diharapkan masyarakat di daerah rawan bencana bisa mendapatkan informasi lebih awal sebelum bencana datang,” harapnya.

Abdul Muhari narasumber dari BNPB menyampaikan, desa-desa di pesisir harus diperhatikan sebelum terjadi tsunami, karena perkiraan waktu evakuasi sebelum gelombang tsunami sampai ke pantai sekitar 20 menit. 

“Ada banyak tanda yang bisa dijadikan acuan sebelum tsunami terjadi, salah satunya jika ada gempa terjadi lebih dari 20 detik, masyarakat harus segera evakuasi jangan tunggu info dari BMKG,” imbuhnya.

Sementara itu, Departemen Teknik Geofisika ITS, Amin Widodo menuturkan, bencana terjadi berulang-ulang, seharusnya hal tersebut bisa diantisipasi. Oleh sebab itu, masyarakat harus segera disiapkan untuk mengantisipasi bencana, dengan memberdayakan setiap individu, keluarga, dan komunitas.  

“70 persen yang bisa menyelamatkan diri dari bencana adalah ketangguhan individu jadi tugas kita adalah meningkatkan kemampuan setiap warga di daerah rawan bencana,” katanya.

Adi Susilo narasumber dari Universitas Brawijaya dalam rapat virtual kali ini  menyikapi peran media masa. Menurutnya media sangat penting untuk meredam keresahan masyarakat dengan memberikan informasi yang benar. 

Caranya, lanjut Adi Susilo, dengan memberikan edukasi pada media tentang ilmu kebencanaan dan mitigasi bencana, sehingga bisa menyampaikan maksud para pakar dan ilmuwan dalam menganalisa temuannya dan tidak menulis berita yang salah. “Tidak mudah menulis mitigasi butuh pemahaman serius karena itu media harus diberikan pembelajaran,” ucapnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.