Sarmi, Jemaah Haji Usia 90 Tahun Tak Bisa Jauh dari Kopi

Rudy Hartono - 27 April 2026
Sarmi Subari Rasyid, usia 90 tahun, jemaah haji asal Kabupaten Madiun (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Di antara ribuan jemaah yang bersiap menuju Tanah Suci, sosok Sarmi Subari Rasyid mencuri perhatian sebagai jemaah tertua di Kloter 24. Meski telah menginjak usia 90 tahun, perempuan asal Kabupaten Madiun ini masih memancarkan energi dan fisik yang tergolong bugar untuk lansia seusianya.

Saat ditanya rahasia kebugarannya, menurut penuturan Wiwik Hariningsih, anak Sarmi, bahwa ibunya tergolong pecinta kopi jenis apa saja, mulai dari kopi tubruk, kopi saset, hingga kopi susu.

Dikatakannya, Sarmi tidak memiliki pantangan makan dan cenderung menikmati hidangan apa saja yang disajikan. “Jika sehari saja ia tidak meminum kopi, tubuhnya akan terasa lemas dan tidak bisa beraktivitas dengan normal. Ibu suka semua jenis kopi untuk menjaga kebugaran tubuhnya,”kata Wiwik yang juga berangkat haji mendampingi ibu nya.

Kini, dengan tas kecil berisi perlengkapan dan tentu saja persediaan kopi favoritnya, Sarmi siap terbang menuju tanah kelahiran Nabi.

Lahir pada tahun 1936, Sarmi adalah saksi hidup sejarah panjang Indonesia yang telah melewati zaman penjajahan sebelum kemerdekaan. Meskipun ia tidak mengingat detail peristiwa politik masa itu karena keterbatasan informasi dan sosial media di masa lampau. Ketangguhan fisiknya terasah dari kesehariannya yang tidak bisa diam,  ia terbiasa menjemur hasil panen sawah miliknya sendiri tanpa mengandalkan bantuan anak-anaknya.

Kisah keberangkatannya ke baitullah tidak lepas dari kenangan akan mendiang suaminya yang merupakan seorang purnawirawan ABRI. Dahulu, sang suami adalah sosok pejuang yang sering meninggalkan rumah untuk terjun ke medan perang di berbagai luar kota. Kepergian sang suami beberapa tahun silam meninggalkan kerinduan mendalam, sekaligus tekad bagi Sarmi untuk menyempurnakan rukun Islam kelima ini sebagai penghormatan atas sisa peninggalan sang suami.

Perjalanan religi ini telah direncanakan sejak lima tahun yang lalu saat ia pertama kali mendaftarkan diri. Biaya keberangkatan haji tersebut murni berasal dari tabungan pribadinya yang dikumpulkan dengan sabar. Uang tersebut merupakan akumulasi dari dana pensiun peninggalan suaminya serta bantuan dari anak-anaknya yang kini telah hidup mapan dan mandiri. Bagi keluarga besarnya, memberangkatkan sang ibu adalah bentuk bakti paling tinggi yang bisa mereka berikan.

Dalam perjalanan panjang menuju Mekkah, Sarmi tidak sendirian karena didampingi oleh putri keenamnya, Wiwik Hariningsih. Wiwik yang kini berusia 48 tahun merasa sangat bersyukur dapat mendampingi ibunda tercintanya dalam momen sakral ini.(js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.