Sampah Plastik Dominasi Pencemaran Lingkungan, BRUIN Minta Pemerintah Tindak Produsen Nakal

Yovie Wicaksono - 12 January 2024

SR, Surabaya – Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) meminta pemerintah menindak tegas produsen penyumbang pencemaran sampah plastik di Indonesia.

Hal tersebut, menindaklanjuti temuan BRUIN pada Sensus Sampah Plastik Indonesia mulai Maret 2022 hingga November 2023 di 13 provinsi Indonesia. Di sana, teridentifikasi 10 produsen pencemar terbesar diantaranya unbrand, Wings, Unilever, Indofood, Mayora, hingga Ajinomoto.

“Paling banyak ditemukan di Jawa, ada 25.733 pcs sampah plastik yang hampir 50 persen berasal dari plastik sachet. Ini jadi tren konsumsi masyarakat karena instan dan murah padahal sachet itu tidak bisa didaur ulang,” kata Koordinator Sensus Sampah BRUIN Muhammad Kholid Basyaiban usai konferensi pers, Kamis (11/1/2024).

Atas hal tersebut, kata Kholid, maka perlu penegasan dalam pengawasan dan penegakan hukum untuk menindak produsen nakal yang enggan bertanggungjawab pada limbah plastik yang dihasilkan.

“Ditemukan banyak sekali pelanggaran lingkungan dari produsen yang harusnya ada tanggung jawab sesuai skema tanggung jawab lingkungan,” jelasnya.

Disamping itu, pemerintah juga perlu memperluas skema tata kelola sampah hingga ke pelosok. Masifkan edukasi ke masyarakat agar menggunakan kemasan guna ulang dalam beraktivitas.

“Ini menunjukan, pemerintah ke depan harus berkomitmen untuk tegas mengawasi pengelolaan sampah plastik oleh produsen dan menekan penggunaan plastik,” ucapnya.

Senada dengan Kholid, Guru Besar Hukum Lingkungan, Suparto Wijoyo menyayangkan sikap abai produsen sebagai akar polusi plastik di Indonesia. Ia berharap pemerintah mengambil langkah lebih tegas terhadap para produsen nakal.

“Solusinya adalah penguatan penegakan hukum dan pengawasan bagi industri pencemar sehingga memutus keran polusi plastik di Indonesia,” ucap Wakil Direktur Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Digitalisasi, dan Internasional sekolah pasca sarjana Universitas Airlangga (Unair) itu.

“Produsen harus membuat regulasi internal yang intinya agar distributor dan konsumen tak khawatir jika mengonsumsi produknya. Nanti setelah membeli silahkan kembalikan kemasan sampahnya, anda bisa dapat insentif agar banyak berlomba makin banyak barang bekas yang dikembalikan maka makin banyak pendapatan,” imbuhnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.