Sambut Ramadan, Warga Kampung Kedung Asem Gelar Tradisi Megengan

Yovie Wicaksono - 18 March 2023
Warga Kampung Kedung Asem Gelar Tradisi Megengan di Musholla Miftahul Ulum, Kamis (17/3/2023) malam. Foto : (Super Radio/Vivi Oktavia)

SR, Surabaya – Beberapa hari lagi, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut Ramadan 1444 H. Pada masyarakat Jawa, menandai masuknya bulan Ramadan dengan pelaksanaan tradisi megengan. Namun, tidak ada aturan terkait hari dan jam pasti dilaksanakannya tradisi ini.

Megengan sendiri biasanya dilaksanakan di masjid atau musala/langgar. Seperti halnya yang dilakukan di kampung Kedung Asem kawasan Surabaya Timur yang mengadakan megengan di Musholla Miftahul Ulum, Kamis (16/3/2023) malam.

“Makna megengan itu adalah menahan, pengertiannya menahan hawa nafsu selama bulan suci Ramadan,” kata Ketua Jama’ah Yasin Tahlil (Jami’ah) Kedung Asem Gang IX, Mukhlisin, Jumat (17/2023).

Tujuan diadakannya megengan kata Mukhlis untuk mendoakan keluarga atau nenek moyang yang sudah meninggal dunia. Tradisi Megengan ini, tambah Mukhlis, merupakan wujud konkret akulturasi budaya.

“Megengan menjadi salah satu wujud konkret akulturasi antara budaya jawa dengan ajaran agama islam,” pungkas Mukhlis.

Ia mengatakan, ada aturan khusus terkait tata pelaksanaan megengan. Sehingga dimungkinkan setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda.

Di Kampung Kedung Asem, warga kampung dan jamaah tahlil yang hadir membawa makanan berupa nasi beserta lauk pauk ataupun jajan seperti apem, nagasari, putu ayu, lemper dan buah-buahan seperti pisang hingga salak yang dikumpulkan di satu tempat dan nantinya dibagikan secara acak setelah prosesi doa.

Sekadar informasi, tradisi megengan di Miftahul Ulum dimulai dengan pembacaan yasin oleh Mukhlisin, dilanjutkan dengan tahlil oleh Yakup, doa oleh Zubaidin dan diakhiri dengan pembagian makanan. (vi/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.