Sadarkan Anak Muda Melek Financial Bisa Hentikan Fenomena Generasi Sandwich

Yovie Wicaksono - 2 May 2024
Noven Suprayogi SE MSi Ak, Pakar Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga.

SR, Surabaya – Masyarakat luas tak asing dengan istilah generasi sandwich. Generasi sandwich merupakan generasi usia produktif yang memiliki kewajiban dan tanggungan membiayai hidup tiga generasi, yakni orang tua, diri sendiri, dan anaknya.

Pakar Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) Noven Suprayogi SE MSi Ak mengatakan fenomena generasi sandwich lantaran kurangnya manajemen finansial yang baik selama masa produktif. Sebagian besar mereka tidak mempersiapkan dengan matang perencanaan ekonomi pada masa mendatang.

Lebih jauh Noven menjelaskan fenomena generasi sandwich itu merupakan permasalahan yang kompleks. Bukan hanya dari sisi ekonomi, namun juga sisi sosial budaya. Ditambah, di Indonesia menjunjung erat kekeluargaan dan adat ketimuran yakni seorang anak memiliki kewajiban membiayai orang tua.

Selain itu, penyebab banyaknya generasi sandwich karena banyak masyarakat Indonesia yang berpenghasilan menengah terjebak dalam middle income trap  “Masyarakat middle income trap itu mereka tidak tergolong kategori kaya dan juga tidak tergolong kategori miskin. Ketika masyarakat middle income trap mengalami kesulitan maka akan berisiko  jatuhnya roda perekonomiannya,” ucapnya pada (30/4/2024).

Atas masalah generasi sandwich  itu Noven lebih menekankan  solusi meningkatkan income bagi masyarakat middle income trap. Dengan itu, setidaknya dapat mengurangi permasalahan ekonomi pada masyarakat.

Faktor Penting

Noven mengimbau para anak muda yang dalam usia produktif serta telah memiliki penghasilan untuk melek akan manajemen finansial. Dengan manajemen finansial yang tepat dapat memutus tali generasi sandwich untuk generasi-generasi selanjutnya.

“Ibaratnya, hidup manusia itu seperti parabola. Pada saat usia produktif mungkin kita masih kuat dalam mendapat penghasilan secara optimal. Namun, seiring berjalannya waktu tidak akan sekuat saat usia produktif. Alhasil, penghasilan yang didapat tidak sestabil saat produktif serta ditambah biaya hidup semakin tinggi,” tambahnya.

Ia menyebutkan, dua faktor penting dalam manajemen finansial. Yakni, perencanaan dan pengalokasian keuangan yang matang. Dalam hal ini, anak muda harus mulai mempersiapkan dana-dana untuk jangka panjang. Seperti halnya, dana pendidikan, dana kesehatan dan dana pensiun.

“Kedua faktor tersebut harus diperhatikan betul, terutama anak muda yang masih dalam usia produktif. Upaya-upaya tersebut bertujuan untuk menghindari kecenderungan bergantung dengan orang lain di masa usia senja,” ujarnya.

Mulai Berinvestasi

Selain itu, Noven menyarankan untuk anak muda mencoba berinvestasi. Pada era sekarang, telah tersedia banyak instrumen-instrumen penyedia jasa investasi untuk para anak muda. Berinvestasi dinilai lebih efektif untuk anak muda dalam pengelolaan keuangan.

“Sebenarnya, sama halnya dengan menabung. Namun, terkadang anak muda menerapkan menabung itu dengan cara menyisakan. Seharusnya, jangan menyisakan harus adanya sekian persen yang memang dialokasikan untuk tabungan,” tuturnya.

Ia menambahkan, dalam berinvestasi harus melihat karakteristik dan kemampuan diri sendiri. Pilihlah produk investasi yang terpercaya dan akurat serta terverifikasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengelola keuangan. Perhatikan betul dalam konsep segala risiko dalam berinvestasi.

“Dalam menentukan produk investasi harus mengetahui untuk jangka panjang atau pendek serta karakteristik diri. Karakteristik diri ini meliputi apakah berani untuk mengambil risiko yang tinggi atau tidak. Karakteristik ini yang tahu hanya dalam diri sendiri, tinggal kita menyesuaikan produk investasi yang cocok dengan karakteristik diri sendiri,” ungkapnya.  (*/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.