Rayakan Ulang Tahun, Paroki Kristus Raja Gelar Rembug Pancasila Lintas Iman
SR, Surabaya – Memasuki aula Gereja Paroki Kristus Raja Surabaya hari ini, Sabtu (31/5/2025) suasana kebhinekaan terasa begitu hangat. Di setiap meja, umat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan duduk bercengkerama bersama. Ada yang mengenakan jilbab dan songkok, udeng khas Hindu, Kasaya (baju Bhante Buddha), hingga blangkon dan lurik penganut kepercayaan.
Mereka semua hadir untuk memperingati hari ulang tahun Paroki Kristus Raja yang ke-95, sekaligus merayakan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni.
Tema besar perayaan ini adalah “Peziarah Pengharapan”. Seperti disampaikan Kepala Paroki, Romo Markus Marcellinus Hardo Iswanto, acara ini bertujuan untuk mengingat kembali cita-cita luhur pendiri bangsa. “Kita memiliki tema berjalan bersama menuju peziarahan yang mempunyai arah baik di dunia maupun di akhirat,” katanya.
Ia menekankan, dalam peziarahan di dunia, harapan bersama adalah menjadikan Pancasila sebagai landasan hidup bermasyarakat yang mencintai tanah air. “Maka dalam gereja Katolik, pengharapan ini harus kita perjuangkan,” ujarnya. Ia pun mendukung penuh penyelenggaraan acara ini agar selaras dengan semangat tersebut, “Makanya diberi judul ‘Ngerembug Kebangsaan Pancasila’ dan bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila,” terangnya.
Selama tiga tahun terakhir, Paroki Kristus Raja telah membangun upaya mempererat relasi antarumat beragama hingga ke tingkat paling bawah. “Kita tambah namanya pengurus atau relasi antarumat beragama kepercayaan di tingkat paling bawah di seksi abdimas,” jelasnya. Dengan cara ini, relasi lintas iman tidak hanya terjadi di tingkat elit, seperti pemimpin agama atau tokoh intelektual, tetapi juga di akar rumput, di tengah kehidupan masyarakat yang paling kecil.
Acara dibuka dengan doa lintas agama yang dibacakan secara bergantian oleh perwakilan Katolik, Islam, Hindu, penghayat kepercayaan, Konghucu, hingga Kristen Protestan. Setelah itu, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu bersama-sama membaca teks Pancasila dengan penuh semangat.

Minim Literasi Pahami Pancasila
Dalam sesi diskusi, Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Prof. Ali Mashcan Moesa, mengingatkan tentang pentingnya literasi untuk memahami Pancasila secara utuh. “Banyak realitas yang kita hadapi di Indonesia berkaitan dengan Pancasila,” ujarnya. Salah satunya, kata dia, adalah rendahnya tingkat literasi masyarakat.
“Minimnya literasi akan membawa kita pada terombang-ambing dan pemahaman salah kaprah soal Pancasila,” tegas Guru Besar bidang Ilmu Sosial dan Bahasa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Data UNESCO menunjukkan Indonesia berada di peringkat 59 dari 60 negara dengan literasi rendah. Ia juga mengutip survei Stanford yang menyebut hanya 0,001 persen masyarakat Indonesia yang gemar membaca buku ilmiah atau kitab suci, hanya satu dari seribu orang.
Prof. Ali juga mengingatkan bahwa berbangsa dan bernegara adalah urusan publik, bukan soal keyakinan pribadi. “Bung Karno luar biasa mengedepankan persatuan,” katanya.
Mantan Rektor Universitas Islam Kediri itu menambahkan, “Harusnya yang dikedepankan adalah manusia dulu baru aturan. Akhlak dulu dibenahi. Sekarang kan yang diutak-utik hukum dulu. Kalau hukumnya menghalangi tujuannya, ya diubah hukumnya,” katanya. Prof. Ali juga menyoroti fenomena banyak pihak yang gencar bicara soal Pancasila, tetapi perilakunya justru tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
“Dulu ing ngarso sung tulodo, sekarang ing ngarso golek bondo,” katanya, menyindir para pemimpin yang hanya sibuk mencari keuntungan pribadi. Ia pun menegaskan pentingnya moderasi beragama sebagai bagian dari pemahaman Pancasila. “Perjumpaan seperti ini tidak boleh berhenti,” pungkasnya.

Pelajar Terbersit Ubah Pancasila
Sementara itu, Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Mohammad Anshori, atau kerap disapa Gus Aan, mengungkapkan survei terhadap pemahaman Pancasila di kalangan generasi muda. Berdasarkan survei di lima kota besar Indonesia, sebanyak 83 persen pelajar menyebut Pancasila adalah ideologi yang bisa diubah.
“Bagi kita yang senior, wah bahaya itu,” katanya. Gus Aan melihat banyak anak muda yang kini sudah bosan, melihat banyak pihak menggaungkan kata Pancasila, namun perilakunya justru jauh dari nilai-nilai luhur bangsa. “Anak muda wis waleh mblenger ngrungokno wong ngomong Pancasila, tapi perilakunya korupsif, militeristik, diskriminatif, dan bikin onar,” ujarnya prihatin.
Gus Aan juga mengutip pesan Gus Dur, “Sampai kapan pun saya akan memperjuangkan Pancasila dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah Pancasila dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam,” kutipnya.
Ia mengingatkan, dalam perjuangan melawan Belanda dulu, ada tiga kelompok besar, nasionalis yang menolak penjajahan atas dasar kebangsaan, sosialis yang menolak karena penindasan ekonomi, dan Islamis yang menolak karena Belanda dianggap kafir. “Gus Dur bilang, pokoknya Pancasila dan semua setara, bukan Islamisme,” tegas Gus Aan (nio/red)
Tags: kristus raja, lintas agama, pancasila, paroki, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





