Rancang Rencana Penanggulangan Bencana, BPBD Jatim Kuatkan Sinergi Pentahelix

Yovie Wicaksono - 22 December 2021
Penyusunan peta RPB di Gedung BPBD Jatim, Rabu (22/12/2021). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Kondisi Jawa Timur (Jatim) yang sedang dilanda berbagai bencana alam membuat seluruh pihak tergerak, semakin waspada. Diketahui, dalam setahun terakhir ada 8 kejadian besar yang kini korbannya mencapai 100 jiwa. Ada pula 14 potensi bencana yang patut diwaspadai masyarakat.

Menyadari adanya potensi tersebut, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim segera menguatkan sinergi Pentahelix dalam pemetaan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) tiap daerah untuk tahun 2022-2026.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jatim, Dadang Iqwandi mengatakan, peran pentahelix yang terdiri dari 5 unsur yakni Pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media, sangat penting dalam menghadapi bencana.

Tiap pihak, tidak hanya berperan saat penanganan, melainkan juga pada fase pra hingga pemulihan.

“Sebagaimana kita ketahui upaya, baik di fase pra itu sangat banyak. RPB ini adalah dokumen daerah sehingga kepemilikan dokumennya adalah milik kita semua, dalam penanggulangan bencana,” ucap Dadang saat mengisi materi dalam penyusunan peta RPB di Gedung BPBD Jatim, Rabu (22/12/2021).

Untuk itu, dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari, hingga Kamis (23/12/2021) tersebut, pihaknya bersinergi agar tiap unsur pentahelix dapat berkontribusi pada sekira 12 klaster yang ditetapkan dalam penanggulangan bencana.

Diantaranya, Klaster pencarian pertolongan, logistik, pendidikan, kesehatan, pengungsi, komunikasi publik, keamanan, bencana ikutan, manajemen bencana, dan sebagainya.

“Ada rencana kedepannya untuk melakukan maping klaster termasuk pembagian tugas disaa pra, tanggap, dan pasca pemulihan bencana,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Pusat, Hendro Wardhono. Ia menuturkan, penguatan klaster ini dilakukan guna meningkatkan persiapan dan kolaborasi ketika terjadi bencana hingga fase pemulihannya.

Pembentukannya pun dilakukan setelah dilakukan evaluasi pada pelaksanaan sebelumnya.

“Dulu klaster itu dibentuk pada saat tanggap darurat, jadi orang-orang itu berkoordinasi saat terjadi bencana. Nah dari evaluasi yang kita lakukan, kadang karena baru pertama kali koordinasi, gak nyambung satu dengan yang lain,” ujarnya saat ditemui tim Super Radio.

Dengan adanya kegiatan ini, ia berharap RPB yang telah disusun bersama dapat dioperasionalkan dan menjadi dokumen rujukan semua lembaga dan institusi terkait kebencanaan.

“Acara yang luar biasa bagus, ini menyatukan berbagai elemen. Real nya, ini menjadi harapan besar kami sehingga para elemen bisa saling memberikan potensi dirinya terkait pengurangan resiko bencana,” pungkasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.