Rahasia Dibalik Gelang Stainless Haji Embarkasi Surabaya

Rudy Hartono - 23 April 2026
Pekerja sedang menyusun dan mencetak data identitas jemaah haji di atas lempengan logam yang akan dibentuk menjadi gelang yang dikenakan jemaah haji embarkasi Surabaya, di Asrama Haji Surabaya, Kamis (23/4/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Di balik keriuhan keberangkatan jemaah haji di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (SUB), panitia mewajibkan jemaah haji mengenakan  satu benda kecil namun sangat vital yakni: gelang identitas.

Gelang berbahan stainless steel yang melingkar di pergelangan tangan setiap jemaah itu bukan sekadar aksesori. Gelang itu diproduksi dengan standar kualitas tinggi dirancang untuk bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem maupun situasi darurat yang tidak terduga.

Kualitas material menjadi prioritas utama mengingat fungsinya juga sebagai identitas tambahan, fungsinya bisa disebut ebagai ‘KTP darurat’.

Mohammad Ivan, salah satu koordinator teknis pembuatan gelang, mengungkapkan bahwa bahan yang digunakan bukan logam sembarangan, melainkan baja tahan karat berkualitas tinggi. “Bahannya ST 1,4 milimeter buatan Jepang. Bisa dipastikan tahan karat, tahan api, dan aman dari iritasi kulit bagi jemaah,” ujar Ivan saat ditemui di sela-sela proses produksi di area Asrama Haji Surabaya.

Tumpukan lempengan gelang stainless steel milik jemaah haji Embarkasi Surabaya (SUB). Gelang memuat nama lengkap jemaah, nomor paspor, nomor kloter, serta nomor maktab. (foto : vico wildan/superradio.id)

Proses pembuatan setiap gelang melalui empat tahapan krusial untuk menjamin keakurasian data dan kenyamanan pakai. Ivan menjelaskan bahwa alur kerja dimulai dari proses pengesitan atau pengukiran data, diikuti dengan tahap pencucian agar logam bersih saat dikenakan.

“Proses kedua itu cucian agar di saat dibawa jemaah tidak kotor. Yang ketiga pelengkeran atau melingkarkan logam, dan keempat pengemasan,” jelasnya mendetail mengenai prosedur manufaktur manual tersebut.

Produksi Kerja Cepat

Kecepatan produksi menjadi kunci dalam melayani ribuan jemaah yang masuk ke embarkasi setiap harinya. Dengan tim yang terdiri dari sembilan orang pengrajin terampil asal Jepara, Jawa Tengah, mereka mampu bekerja dengan ritme yang sangat cepat namun tetap presisi.

Pekerja sedang mengoperasikan alat penekuk logam manual membentuk lingkaran sempurna agar bisa dipakai di pergelangan tangan. (foto : vico wildan/superradio.id)

Ivan menyebutkan bahwa untuk menyelesaikan 100 gelang, timnya hanya membutuhkan waktu sekitar 25 hingga 30 menit, mencakup seluruh proses dari pemberian stempel data hingga siap didistribusikan.

Data yang terukir di atas permukaan gelang mencakup informasi identitas yang sangat lengkap untuk memudahkan petugas di Arab Saudi jika terjadi kendala pada jemaah. Di atas lempengan tersebut terpampang nama lengkap jemaah, nomor paspor, nomor kloter, serta nomor maktab.

 

Perawatan Mudah

Menariknya, Ivan menambahkan bahwa perawatan gelang ini sangat mudah. “Malah tambah bersih kalau dibawa mandi, tambah mengkilap,” katanya menekankan daya tahan material terhadap air dan sabun.

Keamanan dan kenyamanan gelang ini pun dirasakan langsung oleh para jemaah. Santoso, jemaah haji asal Kloter 9, mengaku sangat terbantu dengan adanya identitas yang melekat erat di tangan tersebut.

“Untuk pemakaiannya nyaman dan tidak gatal-gatal, mungkin karena dari bahan stainless ya. Kita juga lebih gampang mengenali sesama jemaah tanah air karena identitas yang tertulis jelas di sini,” ungkap Santoso saat bersiap menuju bandara.

Pekerja siap distribusikan gelang haji dimasukkan ke dalam kantong-kantog plastik sesuai kloter jemaah haji embarkasi Surabaya. (foto : vico wildan/superradio.id)

Selain aspek material, fleksibilitas ukuran juga menjadi perhatian para pengrajin. Mengingat ukuran pergelangan tangan jemaah yang beragam, gelang ini telah dilengkapi dengan beberapa lubang pengait yang bisa disesuaikan secara mandiri. Hal ini memastikan jemaah, baik yang memiliki pergelangan tangan kecil maupun besar, tetap bisa memakai identitas mereka dengan kencang tanpa risiko terlepas di tengah kerumunan padat.

Operasional pembuatan gelang di Asrama Haji Sukolilo ini berlangsung secara intensif selama musim keberangkatan. Tim pengrajin bekerja sekitar 10 jam setiap hari untuk memastikan tidak ada jemaah yang terlewat mendapatkan gelang saat proses penerimaan kloter.

“Beroperasinya sampai jemaah terakhir berangkat semua. Gelang diserahkan langsung saat jemaah masuk proses penerimaan di asrama,” pungka Ivan.(js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.