Punya Anak Remaja? Orang Tua Wajib Tahu Hal Ini

Yovie Wicaksono - 12 August 2021
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Usia 12 sampai 17 tahun atau fase remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini, banyak sekali perubahan yang dialami, baik secara fisik, seksual, hingga perubahan pola pikir. Dimasa inilah remaja sedang mencari jati dirinya.

Pencarian jati diri terjadi mulai dari remaja, dan saat memasuki dewasa awal, tugas perkembangan ini sudah selesai. Bagi remaja yang tugas perkembangan ini tidak selesai, terkadang saat dewasa mereka masih mengalami kebingungan, sehingga mereka menjadi pribadi yang tidak matang.

Psikolog RSUD Gambiran Kota Kediri, Kristika mengatakan, jati diri adalah bagaimana seseorang bisa menerima dirinya sebagai pribadi yang unik, pribadi yang berbeda dengan orang lain, dan bisa menentukan segala keputusan yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

“Seperti mau jadi apa, mau melakukan apa, termasuk bertanggung jawab atas segala keputusan yang kita ambil. Ini aku, ya aku. Tentunya tidak lepas sebagai pribadi atau makhluk sosial yang tidak boleh menonjolkan keakuannya juga, tapi bagaimana kita bisa menyeimbangkan antara aku sebagai individu yang unik dan aku sebagai bagian dari makhluk sosial,” ujarnya, Kamis (12/8/2021).

“Misalnya, sudah dewasa tapi tidak bisa mengambil keputusan buat dirinya, tidak bisa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan yang tentu ini menimbulkan dampak psikologis yang tidak baik,” imbuh pendiri BE Psychology ini.

Faktor yang memengaruhi proses pencarian jati diri remaja diantaranya adalah masa kecil atau pola asuh anak. Dikatakan, pola asuh merupakan pondasi dasar dari pertumbuhan seorang pribadi.

Anak yang biasa tumbuh dalam lingkungan sosial yang sehat dan adanya dukungan yang baik dari orang tua maupun orang terdekat, maka anak akan baik-baik saja melewati masa remaja ini.

“Tetapi kalau anak tumbuh dalam situasi psikologis yang kurang sehat, banyak di kritik, di salahkan, tidak diberi kesempatan untuk bertumbuh ya otomatis saat remaja dia menjadi insecure, merasa tidak diterima sepenuhnya, takut adanya penolakan, tidak percaya diri,” jelas Kristika.

Selain masa kecil atau pola asuh anak, peran orang terdekat juga mempengaruhi proses pencarian jati diri remaja, seperti lingkungan pertemanan remaja.

Penting bagi remaja mengerti apa yang harus dilakukannya dalam masa proses pencarian jati diri. Yang utama adalah menyadari akan perubahan-perubahan yang dialaminya. Kemudian terus lakukan hal-hal positif dan produktif.

“Saat ada kendala atau kesulitan, bisa sharing kepada orang tua atau orang yang dipercaya. Bisa juga ke tenaga profesional,” katanya.

Kemudian, remaja bisa mencari sosok figur yang bisa menjadi teladan bagi dirinya. “Yuk cari figur yang positif, yang bisa memberikan arah yang lebih baik lagi,” tandasnya.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.