Plan Indonesia Bersama JKMMPA Kirim Surat Terbuka kepada Indosiar

Yovie Wicaksono - 4 June 2021

SR, Jakarta – Plan Indonesia bersama Jaringan Anak dan Kaum Muda Melawan Perkawinan Anak (JKMMPA)  mengirimkan surat terbuka kepada PT. Indosiar Visual Mandiri terkait tayangan mega series Suara Hati Istri Zahra. Selain pelibatan anak, jalan cerita, adegan,  dan dialog dalam tayangan tersebut dinilai mengandung romantisasi dan glorifikasi perkawinan anak, grooming, pedofilia, serta kekerasan terhadap anak dan kekerasan berbasis gender.

“Kami dengan keras menuntut Indosiar menghentikan tayangan suara hati Zahra atau mengubah alur cerita tanpa unsur perkawinan anak, menunjukkan dukungan terhadap pemenuhan hak anak dengan Zahra bisa kembali bersekolah serta mencapai cita-citanya,” ujar Influencing Director Yayasan Plan Internasional Indonesia,  Nazla Mariza, Jumat (4/6/2021).

Nazla mengatakan, surat terbuka tersebut telah dikirimkan langsung ke PT. Indosiar pada Kamis (3/6/2021). Menurutnya, sebagai media elektronik, Indosiar seharusnya melakukan edukasi terkait perlindungan anak serta kekerasan berbasis gender dan membentuk standar protokol perlindungan anak terhadap jajaran tim produksi beserta kru yang bekerja.

“Kami tidak akan berhenti bersuara jika alur cerita yang ditayangkan masih mengarah ke promosi praktik perkawinan anak,” kata Nazla.

Sebagai informasi, saat ini Indonesia merupakan negara dengan angka perkawinan absolut tertinggi di ASEAN. Sebanyak 1 dari 9 (BPS, 2020) anak perempuan terancam dikawinkan dan kehilangan masa depan mereka.

Selain itu, sebanyak 64.211 anak pada tahun 2020 terancam kehilangan kesempatan mereka untuk menyelesaikan pendidikan karena perkawinan anak, dan sebagai konsekuensinya mereka terancam terjebak kemiskinan di masa depan.

“Tahukah Bapak/Ibu bahaya seorang anak perempuan yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki? Anak tersebut memiliki risiko mengalami kematian saat melahirkan lebih tinggi daripada perempuan dewasa. Bayi yang lahir dari ibu berusia di bawah 20 tahun memiliki kemungkinan kematian dalam 28 hari pertama, hampir dua kali lebih berisiko dibandingkan bayi yang lahir dari ibu berusia 20-29 tahun.1 Bayi yang lahir ini pun dihadapkan pada risiko stunting, malnutrisi dan risiko kesehatan lainnya,” kata Nazla. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.