Pertama Kali, Prosesi Manusuk Sima Digelar secara Daring

Yovie Wicaksono - 28 July 2020
Prosesi Manusuk Sima di halaman Taman Wisata Kuwak Tirtoyoso, Kota Kediri, Senin (27/7/2020). Foto : (Istimewa)

SR, Kediri – Berbeda dari tahun sebelumnya, prosesi Manusuk Sima di halaman Taman Wisata Kuwak Tirtoyoso, Kota Kediri, Senin (27/7/2020), untuk pertama kalinya digelar secara daring mengingat kondisi saat ini, di tengah pandemi Covid-19.

Meski dilakukan secara daring, hal ini tidak mengurangi makna dari tradisi tahunan yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Jadi Kota Kediri yang ke-1.141 tahun.

“Alhamdulillah. Hari ini, kita dipertemukan kembali untuk bersama-sama memperingati Hari Jadi Kota Kediri yang ke-1.141. Sebuah kota dengan usia yang sudah tidak muda kalau dilihat dari angka tahunnya. Namun, kalau dilihat dari isinya, 60 persen penduduk Kota Kediri ini didominasi oleh pemuda, kerennya disebut milenial atau mereka yang lahir di atas tahun 1980-an,” ujar Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar saat menyaksikan seluruh rangkaian prosesi Manusuk Sima bersama Forkopimda Kota Kediri di Command Center Balai Kota Kediri secara daring.

Ia mengungkapkan, peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1.141 ini berbeda dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh dampak  pandemi Covid-19 pada kehidupan sosial, ekonomi, religi, hingga seni dan budaya.

“Hari ini memang tetap digelar Upacara Manusuk Sima, namun karena peserta harus dibatasi dan tetap sesuai dengan protokol kesehatan. Saya dan semua unsur Forkompimda Kota Kediri tidak bisa hadir dan seperti semua warga Kota Kediri lainnya. Kami berharap, meskipun digelar secara sederhana, tidak mengurangi makna hari jadi tahun ini,” ujarnya.

Bagi masyarakat Kediri, Manusuk Sima merupakan sebuah peristiwa penting 1.141 tahun lalu yang menunjukkan sejarah berdirinya Kota Kediri berdasar Prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah. Tertulis dalam prasasti berangka itu, tahun 801 saka atau 27 Juli 879 M. Untuk itu setiap 27 Juli diperingati Hari Jadi Kota Kediri.

Oleh karena itu, Manusuk Sima menjadi tradisi tahunan menghormati para leluhur pendiri Kediri dan tidak bisa dihapus dari rangkaian hari jadi. Nilai yang terkandung dalam Manusuk Sima menjadi pengingat atau tetenger bahwa ada masa awal ketika Kediri ditetapkan menjadi sebuah wilayah, yang berdiri dan tetap bertahan hingga sekarang. Bahkan nama Kediri pun tetap dipakai hingga saat ini.

Prosesi Manusuk Sima diawali dengan jamasan pusaka. Kemudian Prasasti dibaca dan dikirab dibalai Kota.

“Prasastinya dibawa oleh para budayawan, penari. Prasasti dibaca dengan diterjemahkan kemudian dikirab dari sini ke Balai Kota,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Kediri, Nur Mukhyar. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.