Perjuangan Menghidupkan Bahasa Daerah Di Tengah Perkembangan Zaman

Yovie Wicaksono - 6 October 2021
Guru Bahasa Jawa di SMK Senopati Sidoarjo, Linda Widiastutik saat Mengawasi Ujian Siswa. Foto : (Istimewa)

SR, Sidoarjo – Bahasa adalah jati diri dan identitas suatu bangsa. Hal ini sering digaungkan sejak zaman orde baru. Namun sayangnya di era yang semakin maju ini, bahasa daerah semakin kurang diminati oleh kaum milenial sehingga makin rentan untuk punah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat per tahun 2020, dari 718 bahasa daerah di Indonesia, terdapat 19 bahasa lain yang masuk status rentan, artinya penutur bahasa tersebut jumlahnya tidak banyak, yakni bahasa-bahasa dari Maluku, Papua, Sulawesi, Sumatera, dan Nusa Tenggara Timur.

Hal inilah yang kemudian menarik perhatian seorang perempuan muda asal Sukoharjo, Solo, Linda Widiastutik (25) untuk melestarikan bahasa daerah melalui profesi yang ia lakoni sebagai guru Bahasa Jawa.

Ia mengungkapkan, kehidupannya yang sejak kecil telah akrab dengan bahasa Jawa, membuat rasa cintanya terhadap bahasa tersebut semakin tinggi. Sehingga saat beranjak dewasa, ia melanjutkan minatnya itu dengan menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jurusan Sastra Daerah (Jawa).

Ia mengaku bahwa pada awalnya tidak berniat untuk menjadi guru, namun melihat keadaan generasi muda yang lebih suka menggunakan bahasa lain, membuat hatinya tergerak untuk kembali mengenalkan bahasa asli ibu pertiwi ke kalangan muda.

“Jadi karena ada lowongan pekerjaan guru, dan saya merasa tertantang, apalagi jaman sekarang anak-anak itu sulit berbahasa Jawa terlebih untuk berbicara bahasa Jawa Krama. Saya jadi ingin menyumbangkan ilmu saya supaya anak-anak jaman sekarang bisa lebih kenal lagi bahasa Jawa,” ucapnya, Selasa (5/10/2021).

Linda Widiastutik. Foto : (Istimewa)

Kini, terhitung sudah hampir 2 tahun ia mengajar di beberapa sekolah mulai dari SMP, hingga saat ini di SMK Senopati Sidoarjo. Ia mengaku, selama mengajar banyak pahit manis yang telah ia lalui. Terlebih selama ini, pelajaran bahasa Jawa dikenal sebagai pembelajaran yang membosankan.

Ia melanjutkan, saat mengajar ia akhirnya tahu bagaimana minimnya kemampuan para anak didiknya dalam berbahasa Jawa dan mengenal budayanya sendiri. Sehingga dirinya harus memutar otak untuk menggunakan metode lain agar muridnya tertarik dengan pembelajarannya.

“Untuk sekadar bicara bahasa Jawa Krama dengan orang yang lebih tua itu mereka sudah kesulitan untuk menuturkannya. Tahu kenyataan ini rasanya miris, ternyata patokan hidup berbudaya itu sudah mulai ditinggalkan,” jelasnya.

Untuk itu, ia menggunakan metode bercerita yang berkaitan dengan kisah-kisah terdahulu dan mitos, kemudian dihubungkan dengan mata pelajaran yang diampunya.

“Kalau saya lebih suka bercerita, dimana cerita itu bisa menarik perhatian anak-anak. Kalau ada cerita apalagi yang berhubungan dengan budaya itu biasanya dihubungkan dengan mistis, kalau sudah seperti itu mereka akan tertarik,” ungkapnya.

Namun diluar itu semua, dirinya tetap merasa senang karena bisa membagi ilmu yang ia miliki dan mengenalkan kembali bahasa Jawa ke anak-anak penerus bangsa agar tidak tergerus zaman.

“Harapan saya, semoga kita tidak kehilangan jati diri terutama untuk Bahasa Jawa. Khususnya untuk orang asli Jawa yang lahir, tinggal dan dibesarkan dengan adat Jawa, bahwa Jawa itu sudah termasuk identitas. Jangan sampai kita baru mengakui dan menghargai ketika identitas itu sudah diambil pihak lain, hargai sedini mungkin,” tandasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.