Penyebab Ular Masuk Pemukiman

Yovie Wicaksono - 10 January 2020
Warga menunjukan Ular sendok jawa atau kobra jawa (Naja sputatrix) di dalam bekas botol air mineral setelah berhasil ditangkap warga di Perum Tata Lestari, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/12/2019). Foto : (Antara)

SR, Surabaya – Beberapa pekan yang lalu banyak pemberitaan tentang keberadaan ular pada pemukiman warga. Permasalahan tersebut diakibatkan oleh menetasnya telur ular, sempitnya habitat ular dan bencana banjir yang membawanya.

Terkait hal tersebut, dosen Departemen Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga dan aktivis pecinta satwa, Dr. Boedi Setiawan mengatakan, habitat ular yang seharusnya di alam bebas sudah sedikit demi sedikit tergerus. Hal itu juga nampak karena pembangunan yang semakin pesat.

“Ular yang berada di pemukiman warga selain karena terbawa arus banjir juga disebabkan sifat ular untuk mencari daerah yang aman,” ungkap Cak Boeseth, sapaan akrabnya.

Guna mengantisipasinya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencegah ular datang ke pemukiman, yakni kebersihan rumah, tata letak barang bekas harus ditata dengan rapi, karena barang bekas memunculkan adanya habitat tikus yang menjadi makanan ular.

Tidak hanya itu, kebersihan rumah dengan mengepel lantai juga membantu ular agar tidak masuk ke dalam rumah. Menurut Boeseth, pembersih lantai yang mengandung pewangi dan zat pembersih yang menyengat tidak disukai oleh ular.

“Masyarakat juga perlu tahu bahwa ular tidak takut dengan garam,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, habitat asli ular yakni alam bebas jangan dirusak. Terutama rantai makanan yang ada jangan sampai terputus.

Predator pemakan ular seperti Elang, Ular Bido, Garangan Jawa, dan Biawak sudah sedikit dijumpai. Banyak masyarakat yang memburunya untuk hewan peliharaan. Hal itu sangat dilarang agar ular tidak mencari daerah baru yang akan mengganggu ekosistem.

Cak Boeseth juga menekankan adanya tata ruang yang layak untuk satwa liar. Pembangunan yang terus berkembang harus mempertimbangkan dampak secara berkelanjutan.

Jika ular sudah masuk ke pemukiman warga, masyarakat diimbau tidak memegangnya dengan tangan secara langsung bahkan dibunuh sekalipun. Masyarakat dapat menghubungi Badan Perlindungan Masyarakat (Linmas) di daerah setempat. LinMas yang terdiri dari medis veteriner, Damkar, dan aktivis penyayang binatang akan mengatasi permasalahan tersebut.

Kasus masuknya ular pada pemukiman warga juga tidak terlepas dari musim penghujan yang merupakan masa menetasnya telur ular. Pada masa inilah ular akan mencari daerah yang aman untuk dapat bertahan hidup. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.