Pentingnya Pengetahuan dan Kesadaran dalam Pelestarian Budaya

Yovie Wicaksono - 6 December 2022
Dosen Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Joko Winarko. Foto : (Super Radio)

SR, Surabaya – Dosen Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Joko Winarko mengatakan Hak Asasi Manusia (HAM) dibentuk sesuai norma. Jika masyarakat melakukan sesuatu sesuai norma maka dikatakan tertib.

“Jika tidak sesuai norma atau diluar konteks kebiasaan maka sama dengan melanggar,” kata Joko dalam Webinar Layak Human Right Festival 2022, Senin (5/12/2022) malam.

Adanya permasalahan terkait eksperimen budaya yang dianggap melanggar, menurutnya, ada sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan karena ada sesuatu yang dinamis.

“Pengetahuan masyarakat berperan penting dalam menegakkan HAM, tentu dinamis karena manusia dinamis, sehingga mengikuti norma terupdate,” jelas Joko.

Bagi Joko yang terpenting adalah bagaimana masyarakat bisa menerima dan mengapresiasi seni dengan pengetahuan.

“Apresiator atau penonton punya pengetahuan bagaimana mengapresiasi kesenian itu,” katanya.

Praktik dari lembaga HAM menurut Joko sangat penting dalam masyarakat, “Bagaimana mengegaliterkan sama-sama berkontribusi, kita lebur disini,” ajaknya.

Ketua Dewan Kesenian Banyuwangi, Hasan Basri menambahkan, HAM harus dibangun secara integral dengan kebudayaan, sebab berkesenian itu juga memiliki tujuan. Ketika berkesenian mendapatkan ruang yang luas dan bebas akan memberikan kreativitas yang luar biasa. 

Hasan sepakat dengan Joko, bahwa HAM adalah pengetahuan dan diharapkan mengendap menjadi kesadaran.

Menjadi persoalan ketika seseorang mempunyai pengetahuan tentang HAM kemudian menginternal dalam dirinya. Apresiasi yang diberikan terhadap kesenian akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut, sedangkan nilai-nilai itu beragam.

Hasan mencontohkan, sudut pandang religiusitas antara kebudayaan dengan agamawan. Ia pernah menjumpai nada Gandrung diubah menjadi magadir dikarenakan ada tokoh agama yang lewat disekitaran. Hal ini menunjukkan norma agama begitu dominan di masyarakat kemudian mendesak secara keras kepada estetika lain.

“Itu hak yang sangat asasi dalam mengekspresikan seni, hal-hal demikian ketika dimaknai seseorang yang memiliki nilai berbeda, ini bisa menjadi persoalan,” kata Hasan.

Sebab itu, pengetahuan HAM perlu diinternalisasikan kepada tokoh agama. Di sisi lain, Hasan menyoroti berkesenian di Banyuwangi masa kini berbeda dengan tahun 60-an. Di masa kini berkesenian digunakan untuk mendapatkan penghasilan kelompok atau individu.

“Berkesenian tidak lagi ke sesuatu yang idealis, tapi dihajatkan ke hal material dan bersenang-senang semata,” jelasnya.

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Siswanto mengatakan HAM kebudayaan hadir untuk melindungi dan menghargai bagi pelaku seni maupun pemerintah.

Ia sepakat dengan pernyataan bahwa pengetahuan melahirkan kesadaran, kesadaran yang dimaksud dalam kebudayaan ini bersinggungan dengan HAM.

Siswanto berharap ada suatu pendidikan formal atau informal yang menyadarkan bahwa kita manusia yang memiliki banyak dimensi, mulai dari norma, kebudayaan, kesenian dan keagamaan. Kesadaran untuk menghargai kebudayaan, keagamaan dan norma.

“Kebudayaan itu harusnya menjadi ujung tombak, menjadi gerbong lokomotif yang membawa isu-isu HAM yang familiar,” imbuhnya.

Kebudayaan harus dilihat secara komprehensif, memilah mana yang ada di fase keliru dan salah. “Kedua fase ini berbeda, fase keliru adalah orang yang tidak tahu isu HAM, sedangkan fase salah adalah orang yang tahu sesuatu itu salah tapi tetap melakukannya,” jelas Siswanto.

Banyak proyek dalam pelestarian kebudayaan, namun dijumpai Joko proyek tersebut hanya menjadi just running program. Hal ini menjadi penyakit umum, yaitu memikirkan bagaimana program ini selesai tanpa mengawalnya kasus per kasus.

“Titik tolak saya, bagaimana kita berupaya dalam suatu gerakan ikhtiar kebudayaan, menghindari just running program,” sahutnya.

Siswanto mengajak masyarakat untuk mengawal pelestarian budaya ini sebisa mungkin, minimal dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus tetap mengawal dengan gaya, metode dan peran kita sekecil apapun, baik ke tetangga, komunitas, publik, dan lainnya. Ikhtiar mengawal sebisa mungkin, sekecil apapun,” ajaknya. (vi/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.