Penjualan Turun Karena Pandemi, Pengrajin Patung Tetap Berkarya

Yovie Wicaksono - 24 December 2020
Yusuf Sujoko saat membuat replika patung. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Meski penjualan mengalami penurunan karena dampak  pandemi, namun bukan menjadi alasan bagi Yusuf Sujoko untuk berhenti berkarya. Bapak Satu anak yang tinggal di lingkungan wisata religi Gua Puhsarang di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri ini tetap memilih melayani pesanan replika patung Santo Yoseph maupun salib patung Yesus.

Semua pesanan patung replika ini ia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Ada beberapa ukuran patung maupun salib yang sudah dibuat, mulai terkecil ukuran 50 centimeter, 70 centimeter, 80 centimeter hingga ukuran paling tinggi 3 meter. Semua replika patung maupun salib ini berbahan dasar kayu jati.

“Saya menekuni usaha bikin patung dan salib sejak tahun  2006 lalu hingga sekarang,” ujar pria berusia 42 tahun ini.

Kemampuannya dalam memahat patung ia miliki secara otodidak, tanpa harus belajar ke orang lain.

Adapun bahan dasar kayu yang dipergunakan untuk membuat patung ada dua jenis, antara lain kayu jati jenis Belanda dan kayu jati lokal. Dua jenis kayu Jati tersebut ia dapat secara langsung dengan membelinya ke Perhutani.

“Jenis bahan dasar kayu yang dipakai, kayu jati lokal dan jati Belanda. Belinya di Perhutani,” ungkapnya.

Ia mengemukakan alasan untuk memakai bahan dasar kayu jati lantaran kualitas seratnya lebih bagus jika dibandingkan dengan bahan jenis kayu lainnya.

Proses pengerjaan pembuatan patung membutuhkan waktu paling cepat 1 bulan. Sementara untuk patung ukuran besar tinggi 3 meter, pengerjaanya lebih lama dan diperkirakan selesai kurang lebih 2,5 bulan. Kata Yusuf Sujoko, lama pengerjaan ditentukan oleh besar kecilnya ukuran.

“Kalau 80 centimeter pengerjaanya minimal selesai 1 bulan, 50  centimeter 2 minggu. Kalau paling besar selesai 2,5 bulan, semuanya tergantung ukuran,” ujar pria yang hanya mengenyam bangku pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini.

Harga replika patung dan salib yang dijual bervariatif, untuk patung replika Santo Yoseph ukuran 80 sentimeter seharga Rp 5 juta, ukuran 50 centimeter dijual Rp 3,5 juta. Sementara untuk salib berukuran panjang 3 meter dijual hingga Rp 25 juta.

“Semuanya ini saya kerjakan sendiri, pokoknya harus telaten (sabar),” katanya.

Barang produksinya itu ia pasarkan secara online maupun  offline dengan melayani pemesanan secara langsung datang ke rumah.  Sejak 2006, ia sudah melayani banyak pesanan baik dari lokalan Kediri, luar daerah bahkan sampai luar pulau.

“Untuk sekarang ini ada juga pesanan dari Palembang, Pontianak, Sumatra Barat dan  Semarang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, jelang Natal kali ini orderan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan sebelum masa pandemi Natal tahun lalu. Meski demikian ia, bersyukur karena orderan masih tetap ada.

“Pesanan sekarang ini cukup, tidak terlalu sepi dan juga tidak terlalu ramai. Kalau sekarang jelang Natal sudah ada 6 paket. Target pengerjaan 6 paket harus selesai 6 bulan. Kalau sebelum pandemi bisa melayani 12 paket, pokoknya satu tahun saya kerjakan belum habis,” katanya.

Sebelum menekuni seni pahat, Yusuf Sujoko memiliki keterampilan melukis di bambu. Bakat yang dimilikinya  itu kemudian diketahui oleh para temannya.

“Dulu awalnya saya suka lukis, kemudian ada teman yang tanya, bisa melukis dan memahat patung tidak, saat itu saya coba membuat lama kelamaan berhasil seperti ini bentuknya,” ujarnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.