Pengurus PAC PDIP Bondowoso Gencarkan Kerja Kerakyatan dan Lingkungan

Rudy Hartono - 12 April 2026
Pengurus DPC PDIP Bondowoso finalisasi pengurus anak cabang dalam Musancab di DPD PDI Perjuangan Jatim, Sabtu (11/4/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – DPC PDI Perjuangan Bondowoso resmi menuntaskan gelaran Musancab kepengurusan PAC didampingi DPD PDI Perjuangan Jatim, Sabtu (11/4/2026).

Tak menunggu lama, Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso Sinung Sudrajad mengatakan, pasca Musancab pihaknya akan segera merancang pembentukan pengurus di tingkat Ranting dan Anak Ranting. Membahas isu strategis dan program kerakyatan.

“Semua sepakat dan betul-betul menghargai, menghormati hasil keputusan DPD PDI Perjuangan Jatim. Pasca pengukuhan nanti kita sudah mulai  merancang untuk pembentukan ranting dan anak ranting,” sebutnya.

Salah satunya terkait krisis lingkungan. Terlebih Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bondowoso sudah mendapat kartu merah dari pemerintah pusat. Menempati peringkat 386 dari 420 kabupaten/kota se-Indonesia dalam indeks kinerja pengelolaan sampah 2025, dan tidak bisa difungsikan lagi.

Hal ini, lanjutnya, menjadi tamparan keras untuk Pemkab setempat sekaligus tantangan untuk gerakan merawat pertiwi. Budaya peduli lingkungan yang sejak lama menjadi cita-cita dari trisakti Bung Karno.

“Tempat pembuangan akhir (TPA) Kabupaten Bondowoso saat ini mendapatkan kartu merah dari pemerintah pusat dan tidak boleh difungsikan lagi,” ucapnya.

Untuk itu pihaknya berkomitmen  melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah organik maupun anorganik agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas. Para kader muda dan senior akan bersinergi meningkatkan kerja-kerja partai untuk masyarakat.

“Hari ini kita sedang berinovasi, berkreasi bagaimana sampah itu dikelola baik yang organik maupun yang anorganik untuk bisa bermanfaat untuk masyarakat luas,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga akan  menggalakkan sosialisasi pangan alternatif non-beras sebagai upaya kedaulatan pangan. “Sudah mulai berjalan, berproses dan sudah mulai diterima juga di akar rumput, masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu kader muda, Yudha Dwi Prasetyo (27) turut mengungkapkan pandangannya.

Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC PDIP Bondowoso menyebut, sepanjang pengalamannya, PDI Perjuangan telah memberikan wadah bagi anak muda untuk memahami persoalan sosial. Membantunya belajar soal kebangsaan, dan kenegaraan melalui ideologi Marhaenisme.

Hal ini adalah modal penting. Menurutnya, anak muda tidak boleh apatis atau alergi terhadap politik, sebab keterlibatan pemuda adalah sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan masa depan.

“Stigma alergi politik lahir karena ketidaktahuan. Dengan belajar pengorganisasian dan persoalan kebangsaan, jiwa peduli terhadap negara akan tumbuh,” tegas Yudha.

“Bagi saya yang dibutuhkan anak muda saat ini adalah kepedulian terhadap sosial, persoalan-persoalan kemasyarakatan. Mau tidak mau anak muda adalah tongkat estafet kepemimpinan negara Indonesia selanjutnya,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.