Pemkab Magetan Terapkan Teknologi Ozon untuk Produk Hortikultura

Rudy Hartono - 14 January 2026
Bupati Magetan Nanik Endang meninjau penerapan teknologi ozon untuk produk hortikultura cabai rawit di kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Magetan, Selasa (13/1/2026) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga kestabilan harga. (sumber: antara)

SR, Magetan  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, Jawa Timur, menerapkan teknologi ozon untuk penanganan pascapanen produk hortikultura sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga kestabilan harga.

Bupati Magetan Nanik Endang di Magetan, Selasa (13/1/2026), mengatakan teknologi ozon yang diterapkan tersebut berupa generator plasma ozon yang berada di Kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Magetan.

“Teknologi generator plasma ozon ini menjadi solusi strategis bagi petani dalam menghadapi fluktuasi harga pasar, utamanya untuk produk hortikultura seperti cabai rawit,” ujar Bupati Nanik saat meninjau di Kantor DTPHP Magetan, Selasa.

Pihaknya mengapresiasi inovasi DTPHP tersebut karena sangat membantu petani, khususnya saat harga komoditas hortikultura sedang anjlok.

“Generator plasma ini adalah inovasi yang membantu petani di Magetan. Terutama saat harga cabai dan sayuran sedang turun, hasil panen bisa dimasukkan ke cold storage yang dilengkapi sistem ozon ini,” katanya.

Diketahui teknologi ozon pada pangan memanfaatkan gas ozon (O3) sebagai disinfektan alami yang efektif untuk membunuh mikroorganisme, menghilangkan residu pestisida, mengawetkan produk, serta memperpanjang masa simpan buah, sayur, daging, dan makanan laut, tanpa meninggalkan residu berbahaya karena mudah terurai menjadi oksigen.

Hal itu menjadikannya alternatif pengawet yang aman, ramah lingkungan dan menjaga kualitas nutrisi serta sensorik makanan.

Di Magetan, melalui teknologi tersebut, sayuran diklaim dapat bertahan dalam kondisi segar hingga tiga bulan. Hal itu memberikan opsi bagi petani untuk menunda penjualan saat harga rendah.

“Jadi jika sewaktu-waktu harga jatuh, kita simpan dulu. Nanti ketika harga sudah kembali normal atau membaik, baru dikeluarkan dan dijual kembali. Dengan demikian, petani tidak rugi dan harga sayuran bisa lebih stabil,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Magetan berharap pemanfaatan teknologi tepat guna itu dapat terus dikembangkan untuk menjaga kesejahteraan petani, menjaga harga komoditas, dan mendukung ketahanan pangan daerah. (*/ant/red)

 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.