Pemerintah Upayakan Penambahan Kapasitas Tempat Tidur Perawatan Pasien Covid-19

Yovie Wicaksono - 12 January 2021
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. Foto : (Biro Pers Presiden)

SR, Jakarta – Mengantisipasi lonjakan kasus aktif pascaliburan akhir tahun 2020, pemerintah berupaya menambah jumlah tempat tidur yang dibutuhkan untuk perawatan pasien Covid-19. 

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan, saat ini pihaknya memerlukan kurang lebih 36 ribu tempat tidur perawatan sesuai dengan kondisi kasus aktif saat ini.

“Dalam waktu satu bulan kita harus menambah jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19 dari 15 ribu ke 36 ribu,” ujarnya saat memberikan keterangan bersama Menko Perekomonian di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin (11/1/2021).

Ia menyatakan, pihaknya sudah mengimbau kepada seluruh rumah sakit untuk mengalokasikan lebih besar porsi tempat tidur perawatan mereka untuk para pasien Covid-19. Menurutnya, berdasarkan pengamatan yang ia lakukan, tingkat keterisian tempat tidur perawatan rumah sakit banyak yang sebenarnya masih rendah.

“Banyak rumah sakit yang kami lihat BOR (bed occupancy rate)-nya masih rendah tapi sudah penuh dan pasien Covid-19 tidak masuk. Kenapa? Karena contohnya rumah sakit punya 100 tempat tidur, yang dialokasikan buat pasien Covid-19 cuma 10,” ungkapnya.

“Ini cara yang paling cepat untuk menambah jumlah kamar mengantisipasi puluhan ribu pasien yang baru masuk, saya minta tolong semua dirut dan pemilik rumah sakit tolong konversikan bed-nya yang tadinya bukan untuk pasien Covid-19 menjadi untuk Covid-19,” imbuhnya.

Selanjutnya, kebutuhan akan tambahan tempat tidur perawatan tersebut pastinya berbanding lurus terhadap kebutuhan akan dokter dan perawat. Terkait hal tersebut, pihaknya telah melakukan relaksasi beberapa aturan yang nantinya akan mengizinkan para perawat yang masih belum memiliki surat tanda registrasi (STR) yang kurang lebih berjumlah 10 ribu perawat untuk dapat langsung bekerja menangani pasien.

Hal yang sama juga tengah diupayakan bagi kurang lebih 3 sampai 4 ribu dokter yang belum memiliki STR. Pihak Kementerian Kesehatan sedang mengkaji hal tersebut dengan tim Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Jadi di masa pandemi ini memang kita butuh juga tenaga-tenaga perawat karena kasihan mereka yang ada sekarang sudah letih. Jadi kita akan dorong aturan apa yang kita bisa relaksasi,” ucapnya.

Selain itu ia mengatakan, upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

“Apa yang kita lakukan itu sifatnya semua di hilir. Kita harus pelan-pelan bergeser ke cara penanganan proaktif di hulu dan penyebabnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, upaya dari sisi hulu tersebut dibutuhkan untuk mencegah agar rumah sakit tidak mengalami over kapasitas.

Pandemi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan baik di Indonesia maupun di seluruh negara di dunia masih membutuhkan kedisiplinan masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan.

“Saya minta tolong, patuhi protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, dan jangan berkerumun. Mari kita hormati rekan-rekan tenaga kesehatan yang sudah mendahului kita agar pengorbanan mereka itu tidak sia-sia. Mereka memerangi pandemi ini dan semoga kita bersama bisa mengatasi pandemi ini,” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.