PDI Perjuangan Bisa Menang 2029, Asal Kuasai 3 Hal Ini
SR, Surabaya – Peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu mengupas tuntas tantangan dan strategi yang bisa diterapkan PDI Perjuangan menjelang 2029 mendatang.
Ia menyebut, berdasarkan survei litbang Kompas terbaru, secara loyalitas pemilih, PDI Perjuangan Jatim memimpin dengan 85 persen. Lebih tinggi dari nasional yang sekira 65 persen. 70 persen publik juga masih percaya pada rekam jejak partai yang menang hattrick pada pemilu sebelumnya tersebut.
Namun ada beberapa catatan yang menjadi evaluasi. Pasalnya sekira 65 persen pemilih PDI Perjuangan Jatim pada pemilu masih merupakan generasi tua, sedangkan milenial dan Gen-Z hanya 35,7 persen.
Hal ini, cenderung kurang proporsional untuk kontestasi 2029. Terlebih ke depan 60 persen pemilih akan diisi oleh para anak muda milenial dan generasi Z.
“Mestinya pemilih PDI Perjuangan juga menggambarkan piramida terbalik sementara postur pemilih kita adalah yang muda yang banyak,” ujarnya saat menjadi salah satu pembicara di talkshow “RedTalk” di Dyandra Surabaya, Sabtu (22/11/2025).
Untuk itu, ada beberapa catatan yang perlu dilakukan untuk menjembatani gap tersebut. Pertama, kenali karakter pemilih muda. Anak muda era sekarang memiliki ciri 5 C, yakni critical, change, communicative, creative, connexted. Mereka cenderung rasional dan menjadikan media sosial sebagai kanal utama.

Partai, lanjutnya, harus masuk ke wilayah itu. Menawarkan hal konkret yang bisa dijangkau anak muda. Partai politik juga harus turun langsung ke rakyat, menjaga integritas, dan memenuhi janji kampanye.
“Lalu harapan publik pada parpol yang paling tinggi adalah turun langsung ke rakyat dengan 24,6 persen, memenuhi janji 20,9 persen, dan jaga integritas 18,3 persen,” ucapnya.
Dari hal tersebut, PDI Perjuangan bisa memaksimalkan upaya lewat 3 hal berikut. Pertama merawat loyalitas para pemilih lama (generasi X-baby boomer) yang dimaksimalkan dengan menggandeng pemilih baru.
Lalu transformasi identitas. PDI Perjuangan yang sebelumnya bertumpu pada ideologi harus berkembang bersama market oriented. Dan terakhir, masifkan digital campaign bersama success story.
Menurutnya PDI Perjuangan perlu menggabungkan strategi digital berbasis segmentasi generasi dengan program program yang berhasil diinisiasi PDI Perjuangan dana desa, dan hal lainnya.
“Jadi tidak stuck ke pemilih lama tapi harus terjun ke orientasi market untuk menarik pemilih baru nya,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan influencer Natasya Kenilaras atau yang biasa dipanggil Natkeni. Sebagai gen-Z yang terjun langsung ke dunia media sosial, ia menceritakan bagaimana pengaruh dunia maya dan kedekatannya dengan netizen lewat konten-kontennya.

Menurutnya, saat ini masyarakat sudah lebih cerdas. Dibanding membangun citra pidato dan birokrasi, publik akan lebih tertarik pada ketulusan.
Dari media sosial, mereka langsung bisa menilai konten tersebut tulus atau sekadar pencitraan. “Jadi skill sekarang bukan lagi soal pidato karena mereka tahu ini setingan, jadi gimana supaya terlihat tulus,” ucapnya.
Untuk itu penting membangun soft skill, memanfaatkan teknologi, tidak anti pada artificial intelegent, dan membuat konten yang berasal dari hati.
“Kalau yang saya lihat sebenarnya generasi milenial dan diatasnya itu melihat AI itu negatif, padahal 50 persen dari kami itu pengguna AI. Ini potensinya besar banget. Jadi gimana kita mempergunakan hal itu untuk jadi senjata kita,” pungkasnya. (hk/red)
Tags: elektabilitas, litbang kompas, pdip jatim
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.






