Pasang Surut Industri Sandal Wedoro

Yovie Wicaksono - 25 June 2022

SR, Sidoarjo – Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Sidoarjo, dari dulu dikenal sebagai sentra industri sandal dan sepatu yang termasyhur di Jawa Timur.

Kini para pengrajin setempat, lebih memilih membuat sandal karena harga bahan baku yang lebih terjangkau serta lebih laku di pasaran.

Meski begitu, industri sandal juga mengalami pasang surut tiap kali pasca Idulfitri hingga tiga bulan setelahnya, dan baru bisa naik usai Iduladha. Belum lagi dampak pandemi Covid-19 selama dua tahun lalu yang membuat industri ini makin terpuruk.

“Karena pandemi kemarin, banyak pengusaha sandal disini yang gulung tikar dan terpaksa beralih profesi. Bisa bertahan saja sudah luar biasa. Sekarang ini lagi masa sepi-sepinya pasar, jadi tiap tahun setelah Idulfitri sampai tiga bulan kedepan itu sepi. Nanti perlahan permintaan pasar naik lagi setelah Iduladha dan jelang Idulfitri itu tinggi-tingginya omset,” ujar Nur Rohman, pengawas di UD. Alfian Jaya, salah satu industri sandal berskala besar yang ada di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Sabtu (25/6/2022).

Ia mengatakan, pada saat ini pihaknya hanya mempekerjakan 25 pegawai yang dalam satu hari bisa memproduksi 200 pasang sandal.

Sebelumnya, pada saat ramai, sebanyak 40 hingga 60 pegawai dipekerjakan. Mereka bisa menghasilkan 1.500 pasang sandal dalam sehari yang kemudian dikirim ke luar kota seperti Surabaya, Bogor, dan Yogyakarta, maupun ke luar pulau seperti di Sulawesi, Kupang, Lombok, hingga Medan.

Saat ini, industri sandal berada dalam dilema. Harga bahan baku seperti karet, spons, hingga lem naik rerata hingga 5 persen. Sedangkan jika harga sandal ikut naik, akan berpotensi tidak laku di pasaran.

“Persaingan dagang ini kan luar biasa sekarang. Harga bahan baku naik, tapi kalau harga sandal juga dinaikkan bisa-bisa tidak laku. Jadi kita menyiasatinya dengan sedikit mengurangi ketebalan tapi tidak mengurangi kualitas secara keseluruhan, lalu laba juga dikurangi agar gimana caranya usaha ini bisa tetap jalan,” pungkas pria yang sudah bekerja di industri sandal sekira 15 tahun ini. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.