Pandemi, Masker dan Konektor Hijab Rajut Buatan Warga Kota Kediri Diburu Pembeli

Yovie Wicaksono - 21 December 2020
Pandemi Covid-19, Masker dan Konektor Hijab Rajut Buatan Warga Kota Kediri Diburu Pembeli. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Hasil karya rajutan Retna Widiyawati terlihat terpajang di dinding rumah. Ada beragam karya yang dihasilkan dan semuanya berbahan dasar dari benang, antara lain boneka, sepatu, tas, serta bunga kaktus beserta pot dan lain sebagainya.

Di masa pandemi seperti sekarang, tidak membuat ibu dua anak yang bertempat tinggal di lingkungan Jalan Raya Kaliombo ini berhenti berkarya. Sebaliknya, Retna Widiyawati justru mengaku dirinya kebanjiran order dari para pelanggan yang pesan memesan konektor (tali penghubung) masker untuk hijab.

“Selain konektor, ini juga lagi ramai pelanggan minta untuk dibuatkan masker rajut. Pesanan kemarin banyak dari Surabaya, Pekalongan dan Kediri. Alhamdulilah,” ujarnya bersyukur.

Pemesanan konektor rajut  dan masker rajut, mulai banyak ramai sejak April 2020 lalu, yakni awal pandemi.

Ia mengatakan, awalnya konektor rajut ini dijual dengan harga Rp 7500 per biji. Setelah pesanan jadi dan diterima, ternyata banyak mendapat respon positif dari para pelanggan. Tidak mau membuat konsumen kecewa, ia kemudian berusaha untuk terus memperbaiki kualitas konektor yang ia buat.

“Saya buat yang lebih bagus lagi untuk konektor rajut, bahannya kita pilih yang lebih  berkualitas, harganya sedikit saya naikan dari Rp 7500 menjadi Rp 10.000 per biji, akhirnya pelanggan mau menerima karena kualitasnya lebih baik,” ujarnya.

Alumni SMA Negeri 6 Kota Kediri  ini tidak menyangka jika konektor rajut dan masker rajut yang dibuatnya mendapat respon positif dari para pelanggan.

“Kemarin yang paling ramai itu konektor masker, tali  belakang yang di sambungkan ke hijab. Harganya Rp 10.000, itu teman yang di komunitas ada yang buat,  akhirnya saya ikutan bikin. Pertama tidak saya jual, saya kasih ke pelanggan saya. Dia pesan bross saya kasih bonus, konektor dan ternyata banyak yang pesan,” katanya.

Pelanggan yang memesan tidak hanya di seputaran wilayah Kediri, melainkan juga dari luar kota seperti Blitar, Surabaya dan Pekalongan. Jumlah pesanan  paling banyak yang sudah dikerjakan bisa mencapai 144 biji.

Di samping konektor, ia juga telah menyelesaikan pesanan masker rajut sebanyak 24 biji. Harga masker rajut sendiri dijual Rp 30.000 per biji.

Jika diperhatikan kualitas masker rajut bikinan Retna Widiyawati ini memang bagus. Selain kualitas bahannya bagus, masker yang dibuat terdiri dari 2 lapis dan bagian depannya terdapat variasi atau hiasan hingga terkesan eksklusif.

“Kalau sekitaran kediri ada yang reseller langsung beli datang kerumah, ada yang beli sampai 4 lusin. Masker rajut saya juga bikin. Tapi dalamnya pakai lapisan kain katun. Masker rajut saya jual Rp 30.000, soalnya maskernya saya mix dengan sulam,” paparnya.

Dalam sehari, Retna mengaku bisa memproduksi konektor sekitar 20 biji. Semuanya ia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun jika pesanan terlalu banyak, untuk mengejar waktu ia terpaksa harus mengajak atau  melibatkan temannya.

Tak hanya konektor hijab dan masker, rajutan bikinan Retna Widiyawati, seperti tas, juga sudah merambah mancanegara. Terutama sudah dikenal oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negri. Retna Widiyawati kembali bercerita  jika tas rajutan buatannya pernah dibeli oleh temanya yang bekerja di Hong Kong.

“Ketika pulang kampung, dia datang ke rumah untuk beli tas rajut, untuk dibawa ke Hong Kong. Tas rajut saya jual paling mahal harganya Rp 350.000. Paling murah untuk tas ukuran kecil Rp 100.000. Ketika dibawa ke luar negri, ternyata ada temannya yang tahu juga ingin beli, minta dikirim ke Hong Kong. Akhirnya saya kirim kesana,” ujar istri dari pekerja bengkel kendaraan ini.

Dari sekian banyak varian  rajutan yang sudah diproduksi, tingkat kesulitan dalam proses pengerjaan adalah dalam hal pembuatan boneka rajut dijual yang dijual antara Rp 80.000 – 100.000.

“Kalau merajut boneka, ini namanya seni amigurumi. Ini teknik merajut dari Jepang. Saya pelajari membuatnya dari Youtube,” katanya.

Selain belajar dari Youtube, dulu semasa kecil ia sering melihat ibunya merajut. Lambat laun ia pelajari dan di bawah bimbingan ibunya, akhirnya ia bisa merajut.

Retna Widiyawati teringat pertama kali ia menekuni usaha rajut 5 tahun lalu, uang yang dikeluarkan untuk modal produksi hanya Rp 150 ribu. Modal tersebut ia pergunakan untuk membeli peralatan merajut had pen dan benang. Selama 5 tahun lebih membuka usaha, kendala yang dihadapi hanya pada sirkulasi pemasaran penjualan. Selama ini hasil produksi rajutannya tersebut ia pasarkan melalui media sosial.

“Terkadang kalau di medsos kan konsumen tidak tahu, tidak memegang barangnya hanya melihat bentuk fisik saja. Sehingga muncul anggapan barang kecil segitu aja dijual mahal. Tapi kalau konsumen sudah datang kesini dan memegang barang, jadi dia tahu memang apik ya,” katanya.

Karena itu salah satu strategi pasar yang diambil, untuk memperkenalkan produksi rajutan  masyarakat yakni ikut dalam pameran maupun bazar yang digelar di Mall maupun di kantor kelurahan. Agar tidak ketinggalan informasi, ia ikut bergabung dalam grup komunitas.

“Saya ikut grup dua komunitas, yaitu komunitas perajut Kediri Raya dan grup binaan Dinas Koperasi namanya KNB (kediri nyongket bareng). Kalau dulu merajut itu namanya nyongket,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.