Pameran Animalgination, Membuka Rangkaian Wayang Rajakaya Indonesia-Jerman

Yovie Wicaksono - 25 February 2024

SR, Sidoarjo – Wisma Jerman resmi menggelar pameran seni karya Herlambang Bayu Aji di Rumah Budaya Sidoarjo, Sabtu (24/2/2024).

Acara bertema animalgination itu sekaligus membuka rangkaian agenda bertajuk Wayang Rajakaya Indonesia-Jerman, yang berlangsung di tiga tempat.

Kegiatan dibuka dengan pameran yang digelar di Rumah Budaya Sidoarjo pada 24-28 Februari 2024. Kemudian berlanjut ke lokakarya pada 25 Februari di kantor Wisma Jerman, dan puncaknya pertunjukan Wayang Rajakaya pada Selasa (27/2/2024).

“Ini adalah bentuk kerja sama antara Wisma Jerman, Rumah Budaya Sidoarjo, dan Mawar Sharon Cristian School yang mementaskan pertunjukan berdurasi 60-90 menit,” ujar Managing Director Wisma Jerman, Mike Neuber Hannilette Diola.

Di agenda pertama ini, kata Mike, sekira 30 karya mulai dari lukisan, mural, instalasi 3D, hingga karya yang melibatkan pengunjung untuk turut berpartisipasi, ditampilkan di Rumah Budaya Sidoarjo.

Bukan tanpa alasan, Mike menjelaskan, dipilihnya seniman Herlambang Bayu Aji sebab memiliki keresahan yang sama yakni terkait lingkungan. Untuk itu seluruh karya yang ditampilkan bertema animalgination.

“Animalgination juga ingin mengingatkan kita betapa kondisi saat ini sangat memengaruhi bumi. Ini adalah tanggung jawab kita untuk menjaga bumi kita,” tuturnya.

Hal tersebut turut diakui sang seniman Herlambang Bayu Aji. Ia menyebut berbagai karyanya memang menampilkan kekhawatiran terhadap pemanasan global yang terjadi.

“Saya percaya pada perubahan atau evolusi di bumi ini. Contoh paling nyata itu pada Corona yang merupakan hal baru dan cepat bermutasi. Beberapa macam binatang juga ada yang sudah punah, ada juga spesies baru,” ucapnya.

Seniman asal Solo yang kini menetap di Jerman itu, juga merasa tersanjung dapat terlibat dan berkolaborasi dengan Wisma Jerman yang memiliki kesamaan misi dengannya.

“Ini produksinya persiapan pamerannya harus saya bawa dari Berlin, kurang lebih setengah tahun. Ada 30 karya seni grafis cukil Lino dengan teknik cukil habis menggunakan cat minyak di atas kertas,” tuturnya.

Sementara itu, Pemilik Rumah Budaya Sidoarjo, Seta turut mengapresiasi gelaran tersebut. Menurutnya, jenis pameran yang membuka ruang partisipatif ini sangat bagus untuk pengunjung yang datang.

“Karena menurut saya kalau ada pameran yang membangun konteks dengan ruang itu lebih bagus. Kami sebagai entitas seni budaya di Sidoarjo kami akan selalu membangun komunikasi yang tidak terbatas,” jelasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.