Nikmati Kuliner Sembari Belajar Kesenian Jawa

Yovie Wicaksono - 8 April 2021
Warung Gula Kelapa di Kabupaten Kediri Edukasi Pengunjung terkait Kesenian Jawa. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Tak hanya menyajikan hidangan makanan dan minuman layaknya warung makan biasa, para pengunjung Warung Gula Kelapa juga bisa belajar tentang kesenian Jawa, mulai dari gamelan, karawitan, jaranan, wayang kulit serta sebuah panggung mini yang bisa dipergunakan untuk stand up comedy, dan pertunjukan pentas lainnya.

Warung yang berada di Jalan Raya Dusun Sawahan, Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini baru dibuka pada 27 Maret 2021 lalu. Pemiliknya adalah kakak beradik yang berprofesi sebagai anggota Babinkamtibmas Polsek Mojo Kediri, sementara adiknya adalah seorang penggendang musik wayang kulit dalang kondang, Ki Manteb Sudarsono.

“Selain ngopi, disini kita juga bisa ngobrol bareng-bareng tentang budaya. Kebetulan adik sudah pulang ke Kediri sama istrinya lulus kuliah. Adik kan penggendangnya dalang Ki Manteb Sudarsono. Sekalian saya minta kesini mewarnai perkembangan budaya yang ada disini. Kalau saya kan selain polisi, memang senang budaya jaranan,” ujar Bripka Agus Budion, Kamis (8/4/2021).

Ia mengaku, konsep Warung Gula Kelapa ini merupakan ide dari dirinya dan sang adik yang bernama Gede Wika Aryawan.

“Saya kasih nama Gula Kelapa karena identik dengan merah putih, nama lainnya sebagai simbol bapak-ibu. Merah itu ibu Pertiwi sedangkan putih itu angkasa. Konsepnya sekelumit tentang kesenian tari, karawitan, jaranan serta lainnya,” ujarnya.

Warung Gula Kelapa ini mengedukasi para pengunjung agar lebih mencintai kesenian budaya Jawa. “Disini sifatnya mengedukasi, kita bisa belajar bareng. Disini banyak teman-teman komunitas YouTube dan budayawan,” kata pria yang pernah bertugas di satuan Resmob Polres Kediri Kota ini.

Sementara itu, makanan dan minuman yang disajikan di warung ini seperti pada umumnya warung angkringan lainnya, seperti kopi, wedang uwuh, teh. Kemudian ada pisang keju, mie pedes serta ayam goreng. Semua menu makanan dan minuman dijual dengan harga terjangkau.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Kang Dalang ini mengungkapkan, meja dan kursi yang ada di Warung Gula Kelapa dibuat dengan seni pahat yang berkualitas, menggunakan kayu yang diperkirakan berusia sudah ratusan tahun.

“Kebetulan kemarin hujan banjir di Desa Besowo banyak kayu limbah, kemudian saya manfaatkan. Jenisnya kayu pasang, kayu jaran macam-macam usianya ratusan tahun,” ujarnya.

Konsep pernak pernik yang ia buat di Warung Gula Kelapa membutuhkan proses pengerjaan sekira satu bulan lamanya. Dimana kapasitas Warung Gula Kelapa ini bisa menampung kurang lebih 75 orang pengunjung.

“Tempat ini dulunya warung sate, terus tidak berjalan, akhirnya lama nganggur terus saya sewa. Mengingat halamannya kan luas bisa digunakan untuk pertunjukan virtual dan kegiatan budaya lainnya,” kata bapak dua anak ini.

Sekali lagi ia menegaskan, ia dan adiknya mendirikan warung ini tidak hanya sekadar untuk mencari keuntungan, melainkan semata-mata ingin berkumpul, bertukar pikiran dan mengekspresikan kesenian yang dimiliki. Tentunya disertai dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti jaga jarak, memakai masker dan cuci tangan ditempat yang telah disediakan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.