Meski Tutup, Air Candi Belahan Tetap Diburu Pengunjung

Yovie Wicaksono - 20 August 2020
Candi Belahan (Sumber Tetek) di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Pasuruan – Disaat beberapa tempat wisata alam maupun sejarah di beberapa daerah kembali dibuka, Candi Belahan (Sumber Tetek) di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, hingga saat ini masih ditutup untuk umum akibat adanya pandemi Covid-19.

“Masih ditutup sejak 16 Maret 2020 karena ada Covid-19. Belum ada info kapan akan dibuka, kami masih menunggu surat dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) keluar,” ujar Astono, juru pelihara Candi Belahan, Kamis (20/8/2020).

Astono mengatakan, meski ditutup, masih banyak pengunjung  yang datang ke candi di sisi timur Gunung Penanggungan ini. Tak hanya dari wilayah sekitar Gempol, para pengunjung justru berasal dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Lamongan, bahkan dari luar Jawa Timur.

Tak jarang, para pengunjung yang datang melakukan ritual di area depan candi, dan meminta tolong juru kunci untuk mengambilkan air yang mengalir dari payudara (maaf) patung Dewi Laksmi yang merupakan simbol kesucian, kedamaian, dan kemakmuran.

“Biasanya yang datang itu untuk ambil air, mandi atau ritual, tapi karena tidak bisa masuk ya kemudian saya ambilkan airnya saja, karena kasihan orang jauh-jauh sudah datang,” katanya.

Astono mengatakan, air yang mengalir di Candi Belahan diyakini bisa membuka aura, awet muda, hingga menyembuhkan orang sakit.

Nanang, pengunjung asal Malang yang datang bersama keluarganya, tidak mengetahui jika wisata sejarah tersebut masih ditutup. Ia hanya bisa meminta air dan berfoto bersama di area luar candi.

“Sedikit kurang sreg karena kan tidak bisa masuk, tapi memang sudah peraturan ya bagaimana. Untungnya tadi kita boleh minta air, saya bisa minum airnya, cuci muka, ya semoga kedepannya lancar sehingga bisa dibuka lagi,” ujar pria yang mengaku baru pertama kali berkunjung ini.

Pengunjung Sedang Mengantri Mengambil Air di Candi Belahan, Kamis (20/8/2020). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Alasan Nanang bersama keluarga berkunjung ke wisata sejarah adalah untuk mengenal sejarah dan leluhur nenek moyangnya.

“Kami suka datang ke situs sejarah karena sejatinya kan kita tidak bisa meninggalkan budaya, leluhur kita yang dulunya babat alas. Bukannya kita memuja atau apa, tapi kita menghormati leluhur dan mengagumi hasil karyanya,” ujarnya.

“Kalau saya sebagai orang Jawa, datang ketempat seperti ini itu merasa seperti ada kekuatan lagi yang masuk ke diri saya dan bersih kembali. Ibaratnya membersihkan diri,” imbuhnya.

Sekedar informasi, dalam situasi normal, sebelum adanya pandemi, jumlah pengunjung yang datang per hari bisa mencapai 200 hingga 300 orang dari berbagai daerah, belum lagi pada hari tertentu dan hari libur. Namun saat ini, masih ada setidaknya 50 orang per hari yang datang sekalipun candi masih ditutup.

“Ada yang memaksa minta masuk, tapi kan ini sudah aturan dari pemerintah jadi tetap tidak bisa masuk,” ujar Astono.

Candi Belahan ini merupakan peninggalan kerajaan Kahuripan pada masa Prabu Airlangga. Candi bercorak Hindu ini, dikenal sebagai petirtaan selir Prabu Airlangga dan ditemukan pada tahun 1049 M atau pada abad ke 11. Selain sebagai petirtaan, tempat ini juga biasa digunakan Prabu Airlangga untuk bertapa.

Candi ini juga dikenal sebagai Candi  Sumber Tetek lantaran terdapat sebuah kolam dengan air yang mengalir dari payudara patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi.  Dalam bahasa Jawa sendiri, tetek dikenal untuk penyebutan payudara. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.