Mengenal Silo Utomo dalam Pernikahan Sapta Darma

Rudy Hartono - 30 September 2026

SR, Surabaya – Nuansa tradisional menyelimuti prosesi pengukuhan pernikahan dalam ajaran kerohanian Sapta Darma yang berlangsung pada Sabtu (12/09/2025) lalu. Di balik rangkaian prosesi tersebut, terdapat tujuan spiritual yang menjadi bagian penting dalam kehidupan rumah tangga, yakni membangun keluarga yang mampu melahirkan generasi Silo Utomo.

Silo Utomo dalam ajaran Sapta Darma merujuk pada keturunan yang diharapkan memiliki budi pekerti luhur dan jiwa ksatria. Generasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk memiliki karakter yang baik, tetapi juga mampu menjalankan tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara.

Mamik Sumarmi, Pengemuka Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menjelaskan bahwa tujuan tersebut menjadi salah satu nilai yang ditanamkan melalui pernikahan dalam ajaran Sapta Darma.

“Landasan dari perkawinan itu sudah diberi landasan seperti itu, sampai mencetak manusia yang Silo Utomo, yaitu yang berbudi luhur,” ujar Mamik Sumarmi

Ia menambahkan bahwa nilai tersebut juga berkaitan dengan ajaran mengenai pengendalian diri. Dalam ajaran Sapta Darma, manusia mengenal Roh Suci sebagai unsur spiritual yang berasal dari Yang Maha Kuasa serta nafsu yang menjadi bagian dari diri manusia.

Melalui ketekunan dalam sujud dan ibadah, nafsu diarahkan agar dapat dikendalikan sehingga membentuk pribadi yang taat kepada Tuhan serta mampu menjalankan kewajibannya dalam kehidupan.

Salah satu tahapan yang dianggap sakral oleh mempelai laki-laki, Erlana Yoga Adityatama, adalah Janji Prastiya, yakni ikatan atau perjanjian antara kedua mempelai kepada Tuhan untuk menjalani kehidupan bersama.

“Bagi saya yang cukup bermakna adalah prosesi Janji Prastiya, dimana momentum tersebut adalah janji bagi saya terhadap istri saya dan Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Erlana

Sementara itu, pengukuhan pernikahan dilakukan melalui dua aspek. Secara kerohanian, pengukuhan dilakukan oleh Pengemuka Penghayat Kepercayaan, juga dicatat melalui mekanisme administrasi negara oleh petugas pencatatan perkawinan.

Bagi ajaran Sapta Darma, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pernikahan tidak hanya dimaknai sebagai ikatan antara dua orang, tetapi juga sebagai awal terbentuknya keluarga yang diharapkan mampu meneruskan nilai-nilai kerohanian dan melahirkan generasi Silo Utomo. (meira/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.